Elsa, Kenapa Kamu Tidak Masuk Islam saja ?

Kamis, 02 Juli 2026 | komentar

 "Tuhan berkata kepada Abraham: 'Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.'" (Kejadian 12:1)

Rusdi sengaja menyalin petikan ayat itu dari internet semalam, lalu menyimpannya di memo ponselnya. Si Rusdi ini memang sedang suka mencari kalimat dan kata-kata dari kitab suci agama apa saja, hanya untuk menyenangkan hati atau memvalidasi keegoisan dirinya sendiri. Namanya juga manusia, tempatnya salah, dosa, dan khilaf. Tetapi, khilafnya Rusdi ini tipe yang berkali-kali lagi.

Rusdi adalah pemuda yang sudah mau masuk kepala tiga, namun di desanya dia dijuluki talambek jago. Istilah bahasa Minang ini artinya baru tersadar setelah sekian lama tertidur atau lalai. Selama ini, kamu kemana saja, Rus? Kau sibuk mencari hal yang tidak penting, sibuk mengoceh dan berkhayal ingin menjadi seniman hebat. Semua khayalan itu sering kau ucapkan dengan lantang di depan bapakmu yang pemalas dan suka menyalahkan keadaan. Bapakmu begitu karena melihat anak yang dibesarkannya dengan uang dan jerih payah keringatnya belum juga berbuah hasil untuk menjamin hari tuanya. Pengennya bersantai, dia sudah malas berjualan, maunya cuma mengopi, main gaplek, dan makan di warung Padang saja terus. Padahal, ibu Rusdi sudah masak di rumah. Maka mengomellah ibunya, memendam kecewa yang mendalam melihat nafsu dan selera setan suaminya yang dituruti terus.

Kembali lagi ke Rusdi yang talambek jago. Sehabis kuliah, dia bingung mau kerja apa. Banyak omong saja, aksinya tidak ada. Mulai dari ingin jadi seniman sampai wartawan, tapi menulis pun dia masih malas dan tugasnya tidak pernah selesai. Mau jadi seniman teater, cuma pernah ikut satu kali pas kuliah dulu. Dia ini sebenarnya anak pedagang, tapi malas berdagang. Karena itulah dagangan warung kelontong mereka di depan rumah makin sepi. Maklum di desa, tapi bukan salah desa atau kota juga memang daya beli orang sudah turun karena ekonomi negara ini lagi hancur, lebih tepatnya dihancurkan. Bapak Rusdi sendiri adalah pemilih setia si "Pinokio" selama dua periode berturut-turut. Dipuja-pujanya si Pinokio itu sampai menangis-nangis kata ibu Rusdi mengingat momen pemilihan waktu itu, dan sekarang barulah dia meratapi nasib.

Akibatnya, Rusdi sampai menganggur hampir dua tahun. Di sela-sela waktu luangnya, dia cuma ikut seleksi CPNS dan PPPK,yang sudah pasti tidak bakal lulus. Itu pun cuma ikutan untuk menyenangkan ego orang tuanya saja. Padahal, sudah saatnya Rusdi serius mencari duit. Dia ini laki-laki, karena tidak mungkin laki-laki tidak punya uang. Dia harus melamar anak gadis orang dan tentunya itu butuh uang, dan itu harus banyak. Untuk mengisi waktu luangnya yang kosong, dia mengisi hidupnya dengan banyak pelatihan modal sertifikat gratisan; mulai dari kru film, elektronika, sampai penyangraian biji kopi.

Balik lagi ke dalam mimpi-mimpi Rusdi dari masa kecil sampai masa tua ini. Rusdi punya hobi yang terus berubah-ubah. Pas SD sampai SMP dia gila game. Pas SMA dia suka film. Pas kuliah dia mendadak suka buku, tapi cuma jadi tukang koleksi buku. Buku yang dibaca sedikit, tapi kosnya penuh buku. Tiap kali pindah kos, dia selalu sibuk mengangkut buku-bukunya yang banyak dan berat itu. Tamat kuliah, dia kembali lagi suka game dan bertransformasi menjadi kolektor game. Celakanya, koleksi buku mahal dan langka yang dibelinya dulu malah dijual murah demi membeli kaset game langka yang harganya selangit.

Suara denting sendok yang beradu dengan piring terdengar lebih nyaring dari biasanya di meja makan pagi itu. Aroma gulai ayam masakan Ibu menguar, tapi entah kenapa tidak mampu membangkitkan selera makan di ruangan itu.

Bapak meletakkan sendoknya dengan pelan, lalu membersihkan sisa kuah di kumisnya yang mulai memutih.

"Sambal seadanya terus sekarang ya, Bu," gumam Bapak, matanya melirik ke arah mangkuk yang isinya sudah tinggal separuh. "Orang di warung seberang itu tadi pagi makan pakai rendang. Harumnya sampai ke rumah kita."

Ibu yang sedang menyendok nasi langsung berhenti. Matanya menatap Bapak tajam, tangannya mencengkeram centong plastik erat-erat.

"Kalau mau rendang tiap hari, modalnya ditinggikan, Pak! Jangan modalnya cuma habis buat beli rokok sama bayar taruhan gaplek di pos ronda," sahut Ibu, suaranya ditekan agar tidak sampai terdengar oleh tetangga sebelah. "Warung kita di depan itu sepi. Pembeli jarang datang, ekonomi lagi susah. Tapi selera Bapak tetap saja selera setan, mau yang enak terus tanpa mau berkeringat."

Bapak mendengus, langsung memalingkan muka ke arah jendela. "Ya mau bagaimana lagi? Zaman sekarang semuanya susah. Ini gara-gara pemimpin sekarang saja yang tidak becus mengurus negara. Dulu waktu zamannya si..."

"Sudahlah, Pak! Jangan sebut-sebut nama orang itu lagi!" potong Ibu, suaranya mulai bergetar karena menahan tangis yang mendadak muncul jika mengingat masa-masa pemilihan dulu. "Dua periode Bapak puja-puja dia sampai menangis di depan TV, sekarang giliran hidup susah, orang lain yang disalahkan."

Rusdi hanya diam sejak tadi, menunduk menatap piring nasinya yang baru tersertuh tiga suap. Di dalam kepalanya, kalimat dari buku The Alchemist karya Paulo Coelho yang tak pernah ia beli, yang dia ambil kalimat motivasinya dari internet untuk verifikasi kepentingan dirinya sendiri, kembali terngiang: "Saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagad raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya."

Jagad raya yang mana? pikir Rusdi kecut. Jagad raya di rumah ini saja rasanya mau runtuh.

"Kamu juga, Rus," suara Bapak tiba-tiba beralih, menembak langsung ke arah Rusdi. "Sudah dua tahun tamat kuliah, kerjaanmu cuma memindahkan buku dari kamar ke ruang tamu. Kemarin bilangnya mau jadi seniman, bikin teater. Mana hasilnya? Bapak ini sudah tua, sudah lelah jualan. Pengennya hari tua tinggal bersantai, makan di warung Padang, menikmati jerih payah anak laki-laki satu-satunya. Tapi kamu masih saja jadi pengangguran."

Rusdi meletakkan sendoknya. Kalimat Bapak barusan menyenggol ego lelakinya yang sudah lama terluka. "Rusdi lagi berusaha, Pak. Menulis itu butuh proses, tidak bisa langsung jadi uang dalam semalam," jawab Rusdi, mencoba membela diri walau dia tahu naskah cerpennya yang terakhir pun belum selesai satu halaman.

"Proses, proses apa? Dari zaman kuliah sampai sekarang, prosesmu itu cuma menghasilkan tumpukan kertas macet!" Bapak mendorong kursi plastiknya hingga berderit nyaring di atas lantai semen. Beliau berdiri, melangkah gusar ke arah sudut ruangan tempat kardus-kardus buku Rusdi menumpuk. Berniat mencari koran bekas untuk alas bungkus rokoknya, tangan Bapak merenggut kasar salah satu tutup kardus yang setengah terbuka.

Plak.

Sebuah bungkusan  bubble wrap yang masih baru terjatuh dari sela-sela tumpukan kertas. Dari balik plastik transparan itu, sebuah logo kaset game retro untuk konsol klasik berkilau tertimpa cahaya lampu. Di bagian pojoknya, masih tertempel label harga dari toko kolektor online: Rp 1.500.000.

Bapak memungutnya. Matanya menyipit, membaca angka nol yang berjejer banyak itu dengan saksama. "Ini apa, Rus?" suara Bapak mendadak turun beberapa oktav, berganti menjadi nada dingin yang menakutkan.

Rusdi merasa jantungnya berhenti berdetak seketika. "Itu... bukan apa-apa, Pak. Cuma barang lama."

"Lama matamu!" Bapak membentak, langsung melemparkan kaset game itu ke atas meja makan, tepat di samping piring nasi Rusdi yang masih tersisa. "Satu juta lima ratus ribu! Di saat warung kita sepi, di saat ibumu pusing memikirkan uang belanja besok pagi, kamu malah beli mainan plastik begini?!"

Ibu langsung merebut kaset itu. Tangan Ibu gemetar saat melihat label harganya. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh juga. "Rus... astagfirullah, Rusdi... Uang dari mana ini, Nak? Kamu bilang tabunganmu sudah habis untuk daftar pelatihan kopi kemarin?"

Rusdi mengepalkan tinjunya di bawah meja. Mukanya terasa panas, terbakar oleh rasa malu dan bersalah yang bercampur aduk menjadi amarah. "Rusdi jual buku-buku langka Rusdi yang lama, Bu! Itu uang Rusdi sendiri!" jawab Rusdi setengah berteriak.

"Uangmu sendiri?!" Bapak maju selangkah, menunjuk muka Rusdi dengan telunjuknya yang kasar. "Kamu tinggal di rumah ini, makan nasi dari beras yang dibeli pakai keringat ibumu, tapi kamu merasa punya uang sendiri untuk hobi sampah seperti ini? Kamu sudah mau kepala tiga, Rus! Laki-laki itu dinilai dari isi dompetnya, dari kemampuannya menafkah hidup, bukan dari seberapa banyak mainan yang dia punya di dalam kamar!"

"Lalu Bapak sendiri bagaimana?!" Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Rusdi sebelum dia sempat menyaringnya. Pertahanan Rusdi runtuh. Dia berdiri, menatap langsung ke mata Bapak yang melotot. "Bapak menyuruh Rusdi jadi laki-laki yang menghasilkan uang, tapi Bapak sendiri apa? Saban hari cuma mengeluh tentang negara, duduk di warung kopi, main gaplek, dan menunggu keajaiban datang dari langit! Warung sepi karena Bapak malas melayani pembeli! Rusdi meniru siapa kalau bukan melihat Bapak setiap hari di rumah ini?!"

Plak!

Suara tamparan Bapak bergema di ruang makan yang sempit itu, menyisakan keheningan yang mencekam. Napas Bapak memburu, tangannya yang baru saja mendarat di pipi kiri Rusdi masih bergetar hebat. Ibu langsung histeris, memeluk lengan Bapak agar tidak melangkah lebih jauh. "Sudah, Pak! Cukup! Astagfirullah... jangan pukul anakmu!"

Rusdi tidak bergerak. Pipi kirinya terasa panas dan berdenyut. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rusdi membalikkan badan, menyambar jaketnya yang tergantung di dekat pintu, dan melangkah keluar rumah, meninggalkan medan konflik keluarga yang baru saja meledak karena keterlambatannya untuk tersadar dari mimpi.

Langkah kaki Rusdi membawanya tanpa tujuan menembus jalanan setapak desa yang berdebu. Dia berakhir di sebuah gardu pos ronda kosong di ujung kampung, dekat hamparan sawah yang airnya mulai mengering akibat musim kemarau.

Rusdi duduk menyandarkan punggungnya pada tiang pos yang kokoh. Di sinilah, di tengah kesendirian, dia meratapi status talambek jago nya. Selama ini dia merasa hebat karena mengoleksi buku tebal dan tahu teori-teori teater. Namun kenyataannya, semua itu hanyalah tameng ego. Dia bersembunyi di balik kata "proses" karena takut menghadapi kenyataan bahwa dia malas dan takut gagal. Dia melihat refleksi masa depannya pada diri bapaknya: seorang laki-laki tua yang patah arang, menyalahkan keadaan untuk menutupi kegagalannya sendiri. Apakah aku akan berakhir persis seperti Bapak? Pikiran itu membuat kuduk Rusdi merinding.

Tiba-tiba, layar ponselnya yang retak menyala. Ada satu info lowongan kerja di grup WhatsApp alumni pelatihan kopinya: sebuah kedai kopi baru di kota kabupaten sedang mencari asisten roaster dan barista. "Disediakan mes tempat tinggal. Dicari yang serius dan mau belajar dari nol."

Rasa perih di pipi kirinya dan bayangan air mata ibunya berteriak keras, memintanya untuk membuang semua gengsi sampah itu. Dia membulatkan tekad, melipat kembali memo motivasinya, lalu membalas nomor kontak tersebut. Sore harinya, Rusdi pulang ke rumah dengan kepala dingin. Dia bersimpuh di kaki Ibunya, mengembalikan kaset game itu agar bisa di-refund untuk tambahan modal warung, dan meminta maaf secara tulus kepada Bapak atas kelancangannya pagi tadi.

Bapak pun luluh, mengakui ketakutannya akan masa depan Rusdi. Sore itu, dengan air mata haru dari Ibu dan tepukan restu di pundak dari Bapak, Rusdi berpamitan untuk pergi merantau dan bekerja ke kota kabupaten demi membuktikan bahwa dia memang sudah bangun.

Tiga bulan bekerja di kedai kopi kota kabupaten ternyata tidak membuat Rusdi otomatis menjadi pria dewasa yang matang sempurna. Posisinya sebagai asisten roaster yang setiap hari dikelilingi rekan kerja sesama muslim ditambah status barunya yang punya sedikit uang di dompet, justru membangkitkan kembali penyakit lamanya: ego yang gemar mencari validasi kelompok.

Lalu, datanglah Elsa.

Gadis Batak itu masuk sebagai kasir baru di kedai. Sesuai tebakan Rusdi yang sok tahu, hampir 50% orang Batak yang ditemuinya adalah Kristen, dan Elsa ternyata benar-benar seorang jemaat gereja HKBP yang taat. Selama kuliah dulu, Rusdi sering bertemu dan menaksir gadis-gadis Batak, tapi dengan mental tempenya, dia tidak pernah punya nyali untuk mengungkapkan perasaan.

Namun Rusdi yang sekarang merasa sudah berbeda. Dengan mentalitasnya yang masih setengah matang dan lingkungan kerja yang homogen Islam, dia merasa berada di atas angin. Sifatnya yang tidak tahu malu mendadak muncul. Berbekal kedekatan mereka yang baru berjalan tiga bulan ,yang sebetulnya cuma sebatas rekan kerja yang sering mengobrol, Rusdi langsung melontarkan pertanyaan sensitif itu dengan enteng di dekat mesin kasir, seolah tanpa beban.

"Elsa, kenapa kamu tidak masuk Islam saja?"

Elsa yang sedang menghitung lembaran uang kembalian langsung menghentikan gerakan jarinya. Dia memutar tubuhnya, menatap Rusdi dengan mata bulatnya yang tegas dan lurus. Suasana di balik meja kasir mendadak sedingin es.

"Maksudmu apa, Rus?" tanya Elsa, suaranya datar tapi ada nada tersinggung yang kuat di sana.

"Ya... maksudku kan bagus," Rusdi terkekeh, mencoba mencairkan suasana dengan gaya bercandanya yang payah. "Di kedai ini kan semuanya Islam. Kalau kamu masuk Islam, nanti lingkunganmu jadi makin satu frekuensi. Lagi pula, kamu kan belum pernah pacaran, sama kayak aku. Siapa tahu kita bisa..." Rusdi menggantung kalimatnya, tersenyum konyol.

Elsa menghela napas panjang, lalu merapikan uang di laci kasir dengan hentakan yang keras.

"Rus, kau pikir agama itu kayak mendaftar pelatihan kopi yang bisa ikut-ikutan karena lingkungan?" Elsa berujar, logat Bataknya kini terdengar begitu tajam menembak. "Kau asal tahu saja ya. Aku ke kota ini untuk kerja, bukan cari pacar. Dan sebelum aku berangkat, Mamak sudah pesan kuat-kuat di telingaku: 'Jangan dekat-dekat sama orang Islam, Elsa.' Kau tahu kenapa?"

Rusdi terdiam, nyalinya yang tadi setinggi langit mendadak rontok kembali menjadi mental tempe.

"Karena Mamak tahu, orang kayak kau ini suka menganggap remeh iman orang lain hanya demi menyenangkan egomu sendiri," lanjut Elsa, menatap Rusdi tanpa berkedip. "Kau sendiri, apa sudah betul caramu beragama sampai sibuk menyuruh orang lain pindah?"

Pertanyaan Elsa menembak tepat ke ulu hati Rusdi. Mukanya memerah sampai ke telinga. Dia ingin membalas dengan kalimat retoris masa kuliahnya, tapi nihil. Dia tersadar bahwa dia baru kenal tiga bulan, tidak tahu apa-apa tentang hidup gadis itu, tapi dengan lancangnya mengusik sesuatu yang paling sakral hanya demi gengsi kelompok dan ego pribadinya. Sepanjang sisa jam kerja hari itu, Rusdi mengurung diri di ruang belakang dekat mesin penyangraian, membiarkan deru mesin meredam gemuruh rasa bersalahnya.

Saat jam pulang tiba dan kedai mulai sepi, Elsa bersiap-siap merapikan tasnya. Rusdi menarik napas dalam-dalam, melepaskan celemek kerjanya, lalu berjalan mendekat dengan sisa-sisa keberanian yang jujur.

"Elsa," panggil Rusdi pelan.

Elsa menoleh, matanya masih menatap Rusdi dengan waspada.

Rusdi menundukkan kepalanya, mengakui kekalahannya di depan harga diri orang lain. "Aku mau minta maaf soal yang tadi sore. Kata-kataku keterlaluan, tidak sopan, dan egois banget. Aku tidak punya hak untuk mempertanyakan imanmu, apalagi menyuruhmu pindah cuma karena lingkungan kerja kita. Aku aslinya cuma pemuda kampung yang baru tahu dunia, Sa. Aku mengira dengan bersikap sok tahu begitu, aku kelihatan hebat. Ternyata aku malah mempermalukan diriku sendiri. Aku janji tidak akan mengulangi hal konyol seperti itu lagi."

Mendengar pengakuan jujur dan terbuka dari Rusdi, ketegangan di wajah Elsa perlahan mencair. Dia menghela napas lega.

"Iya, Rus. Sudah kumaafkan," jawab Elsa, suaranya kembali tenang. "Aku hargai permintaan maafmu. Baguslah kalau kau paham. Agama dan prinsip hidup itu bukan mainan yang bisa kau tawar-tawar pakai obrolan warung kopi."

Elsa kemudian menyampirkan tasnya di bahu, berjalan melewati Rusdi menuju pintu keluar. Namun sebelum mendorong pintu kaca kedai, dia sempat berbalik dan melemparkan senyum tipis. "Besok jangan telat lagi menyalakan mesin sangrai, Rus. Kopi Mandailing  mu hari ini agak terlalu gosong karena kau kebanyakan melamun."

Pintu kaca tertutup, menyisakan Rusdi yang terpaku sendirian di dalam kedai yang mulai temaram. Pipinya tidak lagi terasa panas karena malu, melainkan karena rasa lega yang membuncah. Sambil memutar kunci pintu kedai, Rusdi menatap bayangan dirinya di kaca. Dia sadar, status talambek jago bukan lagi sebuah kutukan kelalaian, melainkan proses panjang yang harus dia lalui. Menjadi laki-laki dewasa ternyata bukan soal seberapa berani kamu menuntut orang lain mengikuti kemauanmu atau seberapa banyak uang di dompetmu, melainkan seberapa besar nyalimu untuk menurunkan ego, mengakui kesalahan, dan menghormati batas hidup orang lain. Malam itu, Rusdi benar-benar telah terbangun.


  Takamatsu, 3-7-2026

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Manusia Berpikir - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger