Elsa, Kenapa Kamu Tidak Masuk Islam saja ?

Kamis, 02 Juli 2026 | komentar

 "Tuhan berkata kepada Abraham: 'Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.'" (Kejadian 12:1)

Rusdi sengaja menyalin petikan ayat itu dari internet semalam, lalu menyimpannya di memo ponselnya. Si Rusdi ini memang sedang suka mencari kalimat dan kata-kata dari kitab suci agama apa saja, hanya untuk menyenangkan hati atau memvalidasi keegoisan dirinya sendiri. Namanya juga manusia, tempatnya salah, dosa, dan khilaf. Tetapi, khilafnya Rusdi ini tipe yang berkali-kali lagi.

Rusdi adalah pemuda yang sudah mau masuk kepala tiga, namun di desanya dia dijuluki talambek jago. Istilah bahasa Minang ini artinya baru tersadar setelah sekian lama tertidur atau lalai. Selama ini, kamu kemana saja, Rus? Kau sibuk mencari hal yang tidak penting, sibuk mengoceh dan berkhayal ingin menjadi seniman hebat. Semua khayalan itu sering kau ucapkan dengan lantang di depan bapakmu yang pemalas dan suka menyalahkan keadaan. Bapakmu begitu karena melihat anak yang dibesarkannya dengan uang dan jerih payah keringatnya belum juga berbuah hasil untuk menjamin hari tuanya. Pengennya bersantai, dia sudah malas berjualan, maunya cuma mengopi, main gaplek, dan makan di warung Padang saja terus. Padahal, ibu Rusdi sudah masak di rumah. Maka mengomellah ibunya, memendam kecewa yang mendalam melihat nafsu dan selera setan suaminya yang dituruti terus.

Kembali lagi ke Rusdi yang talambek jago. Sehabis kuliah, dia bingung mau kerja apa. Banyak omong saja, aksinya tidak ada. Mulai dari ingin jadi seniman sampai wartawan, tapi menulis pun dia masih malas dan tugasnya tidak pernah selesai. Mau jadi seniman teater, cuma pernah ikut satu kali pas kuliah dulu. Dia ini sebenarnya anak pedagang, tapi malas berdagang. Karena itulah dagangan warung kelontong mereka di depan rumah makin sepi. Maklum di desa, tapi bukan salah desa atau kota juga memang daya beli orang sudah turun karena ekonomi negara ini lagi hancur, lebih tepatnya dihancurkan. Bapak Rusdi sendiri adalah pemilih setia si "Pinokio" selama dua periode berturut-turut. Dipuja-pujanya si Pinokio itu sampai menangis-nangis kata ibu Rusdi mengingat momen pemilihan waktu itu, dan sekarang barulah dia meratapi nasib.

Akibatnya, Rusdi sampai menganggur hampir dua tahun. Di sela-sela waktu luangnya, dia cuma ikut seleksi CPNS dan PPPK,yang sudah pasti tidak bakal lulus. Itu pun cuma ikutan untuk menyenangkan ego orang tuanya saja. Padahal, sudah saatnya Rusdi serius mencari duit. Dia ini laki-laki, karena tidak mungkin laki-laki tidak punya uang. Dia harus melamar anak gadis orang dan tentunya itu butuh uang, dan itu harus banyak. Untuk mengisi waktu luangnya yang kosong, dia mengisi hidupnya dengan banyak pelatihan modal sertifikat gratisan; mulai dari kru film, elektronika, sampai penyangraian biji kopi.

Balik lagi ke dalam mimpi-mimpi Rusdi dari masa kecil sampai masa tua ini. Rusdi punya hobi yang terus berubah-ubah. Pas SD sampai SMP dia gila game. Pas SMA dia suka film. Pas kuliah dia mendadak suka buku, tapi cuma jadi tukang koleksi buku. Buku yang dibaca sedikit, tapi kosnya penuh buku. Tiap kali pindah kos, dia selalu sibuk mengangkut buku-bukunya yang banyak dan berat itu. Tamat kuliah, dia kembali lagi suka game dan bertransformasi menjadi kolektor game. Celakanya, koleksi buku mahal dan langka yang dibelinya dulu malah dijual murah demi membeli kaset game langka yang harganya selangit.

Suara denting sendok yang beradu dengan piring terdengar lebih nyaring dari biasanya di meja makan pagi itu. Aroma gulai ayam masakan Ibu menguar, tapi entah kenapa tidak mampu membangkitkan selera makan di ruangan itu.

Bapak meletakkan sendoknya dengan pelan, lalu membersihkan sisa kuah di kumisnya yang mulai memutih.

"Sambal seadanya terus sekarang ya, Bu," gumam Bapak, matanya melirik ke arah mangkuk yang isinya sudah tinggal separuh. "Orang di warung seberang itu tadi pagi makan pakai rendang. Harumnya sampai ke rumah kita."

Ibu yang sedang menyendok nasi langsung berhenti. Matanya menatap Bapak tajam, tangannya mencengkeram centong plastik erat-erat.

"Kalau mau rendang tiap hari, modalnya ditinggikan, Pak! Jangan modalnya cuma habis buat beli rokok sama bayar taruhan gaplek di pos ronda," sahut Ibu, suaranya ditekan agar tidak sampai terdengar oleh tetangga sebelah. "Warung kita di depan itu sepi. Pembeli jarang datang, ekonomi lagi susah. Tapi selera Bapak tetap saja selera setan, mau yang enak terus tanpa mau berkeringat."

Bapak mendengus, langsung memalingkan muka ke arah jendela. "Ya mau bagaimana lagi? Zaman sekarang semuanya susah. Ini gara-gara pemimpin sekarang saja yang tidak becus mengurus negara. Dulu waktu zamannya si..."

"Sudahlah, Pak! Jangan sebut-sebut nama orang itu lagi!" potong Ibu, suaranya mulai bergetar karena menahan tangis yang mendadak muncul jika mengingat masa-masa pemilihan dulu. "Dua periode Bapak puja-puja dia sampai menangis di depan TV, sekarang giliran hidup susah, orang lain yang disalahkan."

Rusdi hanya diam sejak tadi, menunduk menatap piring nasinya yang baru tersertuh tiga suap. Di dalam kepalanya, kalimat dari buku The Alchemist karya Paulo Coelho yang tak pernah ia beli, yang dia ambil kalimat motivasinya dari internet untuk verifikasi kepentingan dirinya sendiri, kembali terngiang: "Saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagad raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya."

Jagad raya yang mana? pikir Rusdi kecut. Jagad raya di rumah ini saja rasanya mau runtuh.

"Kamu juga, Rus," suara Bapak tiba-tiba beralih, menembak langsung ke arah Rusdi. "Sudah dua tahun tamat kuliah, kerjaanmu cuma memindahkan buku dari kamar ke ruang tamu. Kemarin bilangnya mau jadi seniman, bikin teater. Mana hasilnya? Bapak ini sudah tua, sudah lelah jualan. Pengennya hari tua tinggal bersantai, makan di warung Padang, menikmati jerih payah anak laki-laki satu-satunya. Tapi kamu masih saja jadi pengangguran."

Rusdi meletakkan sendoknya. Kalimat Bapak barusan menyenggol ego lelakinya yang sudah lama terluka. "Rusdi lagi berusaha, Pak. Menulis itu butuh proses, tidak bisa langsung jadi uang dalam semalam," jawab Rusdi, mencoba membela diri walau dia tahu naskah cerpennya yang terakhir pun belum selesai satu halaman.

"Proses, proses apa? Dari zaman kuliah sampai sekarang, prosesmu itu cuma menghasilkan tumpukan kertas macet!" Bapak mendorong kursi plastiknya hingga berderit nyaring di atas lantai semen. Beliau berdiri, melangkah gusar ke arah sudut ruangan tempat kardus-kardus buku Rusdi menumpuk. Berniat mencari koran bekas untuk alas bungkus rokoknya, tangan Bapak merenggut kasar salah satu tutup kardus yang setengah terbuka.

Plak.

Sebuah bungkusan  bubble wrap yang masih baru terjatuh dari sela-sela tumpukan kertas. Dari balik plastik transparan itu, sebuah logo kaset game retro untuk konsol klasik berkilau tertimpa cahaya lampu. Di bagian pojoknya, masih tertempel label harga dari toko kolektor online: Rp 1.500.000.

Bapak memungutnya. Matanya menyipit, membaca angka nol yang berjejer banyak itu dengan saksama. "Ini apa, Rus?" suara Bapak mendadak turun beberapa oktav, berganti menjadi nada dingin yang menakutkan.

Rusdi merasa jantungnya berhenti berdetak seketika. "Itu... bukan apa-apa, Pak. Cuma barang lama."

"Lama matamu!" Bapak membentak, langsung melemparkan kaset game itu ke atas meja makan, tepat di samping piring nasi Rusdi yang masih tersisa. "Satu juta lima ratus ribu! Di saat warung kita sepi, di saat ibumu pusing memikirkan uang belanja besok pagi, kamu malah beli mainan plastik begini?!"

Ibu langsung merebut kaset itu. Tangan Ibu gemetar saat melihat label harganya. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh juga. "Rus... astagfirullah, Rusdi... Uang dari mana ini, Nak? Kamu bilang tabunganmu sudah habis untuk daftar pelatihan kopi kemarin?"

Rusdi mengepalkan tinjunya di bawah meja. Mukanya terasa panas, terbakar oleh rasa malu dan bersalah yang bercampur aduk menjadi amarah. "Rusdi jual buku-buku langka Rusdi yang lama, Bu! Itu uang Rusdi sendiri!" jawab Rusdi setengah berteriak.

"Uangmu sendiri?!" Bapak maju selangkah, menunjuk muka Rusdi dengan telunjuknya yang kasar. "Kamu tinggal di rumah ini, makan nasi dari beras yang dibeli pakai keringat ibumu, tapi kamu merasa punya uang sendiri untuk hobi sampah seperti ini? Kamu sudah mau kepala tiga, Rus! Laki-laki itu dinilai dari isi dompetnya, dari kemampuannya menafkah hidup, bukan dari seberapa banyak mainan yang dia punya di dalam kamar!"

"Lalu Bapak sendiri bagaimana?!" Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Rusdi sebelum dia sempat menyaringnya. Pertahanan Rusdi runtuh. Dia berdiri, menatap langsung ke mata Bapak yang melotot. "Bapak menyuruh Rusdi jadi laki-laki yang menghasilkan uang, tapi Bapak sendiri apa? Saban hari cuma mengeluh tentang negara, duduk di warung kopi, main gaplek, dan menunggu keajaiban datang dari langit! Warung sepi karena Bapak malas melayani pembeli! Rusdi meniru siapa kalau bukan melihat Bapak setiap hari di rumah ini?!"

Plak!

Suara tamparan Bapak bergema di ruang makan yang sempit itu, menyisakan keheningan yang mencekam. Napas Bapak memburu, tangannya yang baru saja mendarat di pipi kiri Rusdi masih bergetar hebat. Ibu langsung histeris, memeluk lengan Bapak agar tidak melangkah lebih jauh. "Sudah, Pak! Cukup! Astagfirullah... jangan pukul anakmu!"

Rusdi tidak bergerak. Pipi kirinya terasa panas dan berdenyut. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rusdi membalikkan badan, menyambar jaketnya yang tergantung di dekat pintu, dan melangkah keluar rumah, meninggalkan medan konflik keluarga yang baru saja meledak karena keterlambatannya untuk tersadar dari mimpi.

Langkah kaki Rusdi membawanya tanpa tujuan menembus jalanan setapak desa yang berdebu. Dia berakhir di sebuah gardu pos ronda kosong di ujung kampung, dekat hamparan sawah yang airnya mulai mengering akibat musim kemarau.

Rusdi duduk menyandarkan punggungnya pada tiang pos yang kokoh. Di sinilah, di tengah kesendirian, dia meratapi status talambek jago nya. Selama ini dia merasa hebat karena mengoleksi buku tebal dan tahu teori-teori teater. Namun kenyataannya, semua itu hanyalah tameng ego. Dia bersembunyi di balik kata "proses" karena takut menghadapi kenyataan bahwa dia malas dan takut gagal. Dia melihat refleksi masa depannya pada diri bapaknya: seorang laki-laki tua yang patah arang, menyalahkan keadaan untuk menutupi kegagalannya sendiri. Apakah aku akan berakhir persis seperti Bapak? Pikiran itu membuat kuduk Rusdi merinding.

Tiba-tiba, layar ponselnya yang retak menyala. Ada satu info lowongan kerja di grup WhatsApp alumni pelatihan kopinya: sebuah kedai kopi baru di kota kabupaten sedang mencari asisten roaster dan barista. "Disediakan mes tempat tinggal. Dicari yang serius dan mau belajar dari nol."

Rasa perih di pipi kirinya dan bayangan air mata ibunya berteriak keras, memintanya untuk membuang semua gengsi sampah itu. Dia membulatkan tekad, melipat kembali memo motivasinya, lalu membalas nomor kontak tersebut. Sore harinya, Rusdi pulang ke rumah dengan kepala dingin. Dia bersimpuh di kaki Ibunya, mengembalikan kaset game itu agar bisa di-refund untuk tambahan modal warung, dan meminta maaf secara tulus kepada Bapak atas kelancangannya pagi tadi.

Bapak pun luluh, mengakui ketakutannya akan masa depan Rusdi. Sore itu, dengan air mata haru dari Ibu dan tepukan restu di pundak dari Bapak, Rusdi berpamitan untuk pergi merantau dan bekerja ke kota kabupaten demi membuktikan bahwa dia memang sudah bangun.

Tiga bulan bekerja di kedai kopi kota kabupaten ternyata tidak membuat Rusdi otomatis menjadi pria dewasa yang matang sempurna. Posisinya sebagai asisten roaster yang setiap hari dikelilingi rekan kerja sesama muslim ditambah status barunya yang punya sedikit uang di dompet, justru membangkitkan kembali penyakit lamanya: ego yang gemar mencari validasi kelompok.

Lalu, datanglah Elsa.

Gadis Batak itu masuk sebagai kasir baru di kedai. Sesuai tebakan Rusdi yang sok tahu, hampir 50% orang Batak yang ditemuinya adalah Kristen, dan Elsa ternyata benar-benar seorang jemaat gereja HKBP yang taat. Selama kuliah dulu, Rusdi sering bertemu dan menaksir gadis-gadis Batak, tapi dengan mental tempenya, dia tidak pernah punya nyali untuk mengungkapkan perasaan.

Namun Rusdi yang sekarang merasa sudah berbeda. Dengan mentalitasnya yang masih setengah matang dan lingkungan kerja yang homogen Islam, dia merasa berada di atas angin. Sifatnya yang tidak tahu malu mendadak muncul. Berbekal kedekatan mereka yang baru berjalan tiga bulan ,yang sebetulnya cuma sebatas rekan kerja yang sering mengobrol, Rusdi langsung melontarkan pertanyaan sensitif itu dengan enteng di dekat mesin kasir, seolah tanpa beban.

"Elsa, kenapa kamu tidak masuk Islam saja?"

Elsa yang sedang menghitung lembaran uang kembalian langsung menghentikan gerakan jarinya. Dia memutar tubuhnya, menatap Rusdi dengan mata bulatnya yang tegas dan lurus. Suasana di balik meja kasir mendadak sedingin es.

"Maksudmu apa, Rus?" tanya Elsa, suaranya datar tapi ada nada tersinggung yang kuat di sana.

"Ya... maksudku kan bagus," Rusdi terkekeh, mencoba mencairkan suasana dengan gaya bercandanya yang payah. "Di kedai ini kan semuanya Islam. Kalau kamu masuk Islam, nanti lingkunganmu jadi makin satu frekuensi. Lagi pula, kamu kan belum pernah pacaran, sama kayak aku. Siapa tahu kita bisa..." Rusdi menggantung kalimatnya, tersenyum konyol.

Elsa menghela napas panjang, lalu merapikan uang di laci kasir dengan hentakan yang keras.

"Rus, kau pikir agama itu kayak mendaftar pelatihan kopi yang bisa ikut-ikutan karena lingkungan?" Elsa berujar, logat Bataknya kini terdengar begitu tajam menembak. "Kau asal tahu saja ya. Aku ke kota ini untuk kerja, bukan cari pacar. Dan sebelum aku berangkat, Mamak sudah pesan kuat-kuat di telingaku: 'Jangan dekat-dekat sama orang Islam, Elsa.' Kau tahu kenapa?"

Rusdi terdiam, nyalinya yang tadi setinggi langit mendadak rontok kembali menjadi mental tempe.

"Karena Mamak tahu, orang kayak kau ini suka menganggap remeh iman orang lain hanya demi menyenangkan egomu sendiri," lanjut Elsa, menatap Rusdi tanpa berkedip. "Kau sendiri, apa sudah betul caramu beragama sampai sibuk menyuruh orang lain pindah?"

Pertanyaan Elsa menembak tepat ke ulu hati Rusdi. Mukanya memerah sampai ke telinga. Dia ingin membalas dengan kalimat retoris masa kuliahnya, tapi nihil. Dia tersadar bahwa dia baru kenal tiga bulan, tidak tahu apa-apa tentang hidup gadis itu, tapi dengan lancangnya mengusik sesuatu yang paling sakral hanya demi gengsi kelompok dan ego pribadinya. Sepanjang sisa jam kerja hari itu, Rusdi mengurung diri di ruang belakang dekat mesin penyangraian, membiarkan deru mesin meredam gemuruh rasa bersalahnya.

Saat jam pulang tiba dan kedai mulai sepi, Elsa bersiap-siap merapikan tasnya. Rusdi menarik napas dalam-dalam, melepaskan celemek kerjanya, lalu berjalan mendekat dengan sisa-sisa keberanian yang jujur.

"Elsa," panggil Rusdi pelan.

Elsa menoleh, matanya masih menatap Rusdi dengan waspada.

Rusdi menundukkan kepalanya, mengakui kekalahannya di depan harga diri orang lain. "Aku mau minta maaf soal yang tadi sore. Kata-kataku keterlaluan, tidak sopan, dan egois banget. Aku tidak punya hak untuk mempertanyakan imanmu, apalagi menyuruhmu pindah cuma karena lingkungan kerja kita. Aku aslinya cuma pemuda kampung yang baru tahu dunia, Sa. Aku mengira dengan bersikap sok tahu begitu, aku kelihatan hebat. Ternyata aku malah mempermalukan diriku sendiri. Aku janji tidak akan mengulangi hal konyol seperti itu lagi."

Mendengar pengakuan jujur dan terbuka dari Rusdi, ketegangan di wajah Elsa perlahan mencair. Dia menghela napas lega.

"Iya, Rus. Sudah kumaafkan," jawab Elsa, suaranya kembali tenang. "Aku hargai permintaan maafmu. Baguslah kalau kau paham. Agama dan prinsip hidup itu bukan mainan yang bisa kau tawar-tawar pakai obrolan warung kopi."

Elsa kemudian menyampirkan tasnya di bahu, berjalan melewati Rusdi menuju pintu keluar. Namun sebelum mendorong pintu kaca kedai, dia sempat berbalik dan melemparkan senyum tipis. "Besok jangan telat lagi menyalakan mesin sangrai, Rus. Kopi Mandailing  mu hari ini agak terlalu gosong karena kau kebanyakan melamun."

Pintu kaca tertutup, menyisakan Rusdi yang terpaku sendirian di dalam kedai yang mulai temaram. Pipinya tidak lagi terasa panas karena malu, melainkan karena rasa lega yang membuncah. Sambil memutar kunci pintu kedai, Rusdi menatap bayangan dirinya di kaca. Dia sadar, status talambek jago bukan lagi sebuah kutukan kelalaian, melainkan proses panjang yang harus dia lalui. Menjadi laki-laki dewasa ternyata bukan soal seberapa berani kamu menuntut orang lain mengikuti kemauanmu atau seberapa banyak uang di dompetmu, melainkan seberapa besar nyalimu untuk menurunkan ego, mengakui kesalahan, dan menghormati batas hidup orang lain. Malam itu, Rusdi benar-benar telah terbangun.


  Takamatsu, 3-7-2026

Catatan Pengalaman Menonton Film Little Women 1994 & 2019

Rabu, 13 Mei 2026 | komentar



    Little Women
adalah film adaptasi dari buku yang berjudul sama karya Louisa May Alcott. Film pertama tayang pada tahun 1994 disutradarai oleh Gillian Armstrong, sedangkan film kedua tahun 2019 disutradarai oleh Greta Gerwig. Keduanya adalah sutradara perempuan, jadi film ini benar-benar terasa diambil dari sudut pandang perempuan.

    Bukunya sendiri ditulis tahun 1868, setelah perang saudara di Amerika Serikat selesai. Jujur saya belum pernah membaca bukunya, tetapi sekarang sedang mencoba memesannya dari Indonesia karena saya sekarang tinggal di Jepang. Saya ingin sekali membaca novel aslinya, karena menurut saya membaca buku memberi pengalaman yang berbeda. Kita bisa membangun imajinasi visual sendiri dari kata-kata yang kita baca. Walaupun nanti bayangan saya pasti sudah sedikit bias karena sudah menonton kedua adaptasi film Little Women, saya tetap penasaran ingin membaca versi novelnya langsung.

    Saat pertama menonton Little Women versi 2019, jujur saya agak kurang mencerna alur ceritanya. Rupanya film ini memakai alur maju mundur. Untuk orang yang belum membaca bukunya, menurut saya film ini cukup membingungkan. Saya sampai perlu menonton dua kali supaya benar-benar paham. Setelah itu saya menonton versi 1994, dan ternyata film pertama ini memakai alur yang lebih berurutan sehingga lebih mudah diikuti.


    Film ini menceritakan tentang keluarga March di Concord, Massachusetts, Amerika Serikat. Sebuah keluarga yang bisa dibilang tidak miskin, tetapi juga tidak kaya. Mungkin lebih tepat disebut hidup sederhana. Mereka tinggal di rumah yang hangat bersama sang ibu, Marmee March, dan keempat putrinya: Meg March, Jo March, Beth March, dan Amy March. Di rumah itu juga ada Hannah, pembantu keluarga mereka yang sudah sangat dekat seperti keluarga sendiri.

    Marmee March adalah sosok ibu yang sangat inspiratif bagi anak-anaknya. Ia tidak takut hidup berkekurangan selama masih bisa berbagi kepada orang lain. Ia mengajarkan anak-anaknya tentang belas kasih, kesederhanaan, dan nilai spiritual yang kuat. Pada malam Natal mereka berkumpul membaca surat dari ayah mereka yang sedang berada di medan perang. Keesokan paginya keluarga March mendengar kondisi keluarga Hummel yang miskin dan anak-anaknya sedang kelaparan serta sakit. Tanpa ragu mereka pergi membawa makanan dan bantuan.

    Di perjalanan menuju rumah keluarga Hummel, mereka berpapasan dengan tetangga mereka yang kaya raya, yaitu Mr. Laurence dan cucunya Laurie, yang sedang pergi ke gereja dengan pakaian mewah. Dari sinilah Laurie mulai tertarik dengan keluarga March, terutama kepada Jo March. Pada malam harinya, ketika Jo dan saudara-saudaranya sedang latihan sandiwara di rumah, mereka melihat Laurie dari balik jendela sedang bermain piano sendirian. Adegan-adegan seperti ini muncul dengan sangat hangat di film versi 1994.


    Lalu berpindah ke film versi 2019. Film dibuka dengan adegan Jo March  pergi menemui Mr. Dashwood disebuah kantor penerbit di New York Karena Jo adalah seorang penulis, ia mencoba menjual cerita pendeknya demi mendapatkan uang. Semua anak keluarga March sebenarnya mempunyai bakat masing-masing. Jo sangat berbakat menulis, Meg yang tertua cantik dan pandai bermain teater, Beth sangat lembut dan berbakat bermain piano, sedangkan Amy paling aktif dan memiliki jiwa seni tinggi serta bercita-cita menjadi pelukis terkenal.

    Karena saya menulis catatan dari dua film sekaligus, ceritanya jadi sedikit bercampur di kepala saya. Laurie sendiri mempunyai tutor pribadi bernama John Brooke. Ia bukan orang kaya, hanya guru biasa yang hidup sederhana. Ada satu adegan penting yang muncul baik di versi 1994 maupun 2019, yaitu ketika Jo dan Meg diajak Laurie pergi menonton pertunjukan teater. Amy merasa sangat cemburu karena tidak diajak, sementara tiketnya hanya tersedia dua. Di sisi lain, saat berada di gedung teater terlihat hubungan Meg dan John Brooke mulai semakin dekat. Dari cara mereka berbicara dan saling memperhatikan, mulai muncul benih-benih cinta di antara keduanya. Sementara itu Jo yang menyadari suasana itu justru mencoba mengganggu dan menghalangi mereka dengan tingkahnya yang ceroboh dan lucu. Adegan ini terasa ringan, tetapi diam-diam penting karena menjadi awal hubungan Meg dan John berkembang lebih jauh.




    Kembali dalam kemarahannya, Amy masuk ke kamar Jo lalu membakar kumpulan cerita Jo yang selama ini sangat berharga baginya. Saat Jo pulang, pergi kekamarnya kumpulan tulisan ceritanya hilang Menurut saya ini salah satu adegan paling menyakitkan dalam film, karena tulisan bagi Jo seperti bagian dari hidupnya sendiri.



    Salah satu bagian yang menurut saya cukup penting adalah ketika Meg March memutuskan menikah dengan John Brooke. John hanyalah tutor pribadi Laurie dan bukan pria kaya. Karena itu hubungan mereka kurang disetujui oleh Bibi March yang sangat memikirkan status sosial dan kekayaan. Bibi March berharap Meg bisa menikah dengan pria kaya supaya hidupnya lebih terjamin. Tetapi Meg memilih John karena cinta, bukan karena uang.


    Di versi 1994, adegan pernikahan Meg terasa sangat hangat dan sederhana. Suasana rumahnya kecil tetapi nyaman, dan hubungan Meg dengan John terasa lembut. Film ini lebih banyak menunjukkan sisi romantis dan kekeluargaan mereka. Sedangkan di versi 2019, kehidupan Meg setelah menikah terasa lebih realistis. Ada rasa lelah, ada kesulitan ekonomi, bahkan Meg sempat sedih karena tidak bisa membeli barang mahal seperti perempuan lain. Menurut saya versi 2019 lebih menunjukkan bahwa menikah karena cinta tetap tidak mudah dijalani.



    Setelah itu cerita kembali berpindah ke kehidupan Jo di New York. Di sana Jo bertemu dengan Friedrich Bhaer, seorang profesor asal Jerman yang cukup dekat dengannya. Friedrich sering mengkritik tulisan Jo karena menurutnya cerita-cerita Jo terlalu mengejar sensasi dan kurang memiliki makna mendalam. Jo terlihat marah dan tersinggung karena merasa hasil kerjanya diremehkan. Tetapi dari situ saya merasa Jo mulai belajar bahwa menulis bukan hanya soal menghasilkan uang, tetapi juga soal kejujuran perasaan dan isi hati.



    Ada juga adegan lucu ketika Jo sedang berbincang dengan Friedrich di dekat perapian, lalu roknya tanpa sengaja terbakar api. Suasana yang tadinya serius langsung berubah kacau tetapi hangat. Saya suka sekali adegan kecil seperti ini karena hubungan mereka terasa natural dan manusiawi.



    Cerita kemudian berpindah lagi ke Amy yang sedang berada di Eropa bersama bibinya. Di sana Amy kembali bertemu Laurie dalam sebuah pesta. Laurie terlihat hidup tanpa arah, mabuk-mabukan, dan dikelilingi banyak perempuan. Amy sangat kesal melihat Laurie menyia-nyiakan hidupnya. Namun di sisi lain Amy sendiri juga realistis. Ia sadar bahwa perempuan pada masa itu sulit hidup mandiri tanpa uang atau pernikahan yang baik. Karena itu Amy sempat berpikir untuk menikahi pria kaya demi masa depannya. Percakapan Amy dan Laurie di bagian ini menurut saya sangat menarik karena membahas cinta, status sosial, dan kenyataan hidup perempuan pada zaman itu.



    Film juga memperlihatkan kehidupan Meg setelah menikah dengan John Brooke. Mereka hidup sederhana di rumah kecil dengan kondisi ekonomi yang tidak mudah. Walaupun begitu, Meg terlihat tetap bahagia karena hidup bersama orang yang ia cintai.



    Sementara Beth lebih sering diperlihatkan bermain piano sendirian di rumah, dengan suasana yang tenang tetapi juga menyedihkan. Beth memang karakter yang paling lembut dan diam di antara saudara-saudaranya. Menurut saya Beth seperti hati dari keluarga March. Ia jarang menjadi pusat perhatian, tetapi kehadirannya membuat rumah itu terasa hangat.

    Beth sempat jatuh sakit setelah membantu keluarga Hummel yang miskin dan sedang terkena penyakit. Dari situ kondisi tubuhnya mulai melemah. Di versi 1994, adegan sakitnya Beth terasa sangat hangat tetapi juga menyakitkan, seperti keluarga March perlahan sadar mereka akan kehilangan sosok paling lembut di rumah itu. Sedangkan di versi 2019, karena alurnya maju mundur, kadang Beth terlihat sehat di satu adegan lalu tiba-tiba sakit di adegan lain. Itu juga yang membuat saya awalnya cukup bingung mengikuti alur filmnya.




    Dan iya, pada akhirnya Beth memang meninggal. Menurut saya kematian Beth adalah salah satu bagian paling menyedihkan dalam cerita ini, terutama bagi Jo. Karena Jo dan Beth punya hubungan yang sangat dekat. Setelah Beth meninggal, Jo terlihat benar-benar kehilangan arah dan merasa rumah mereka tidak lagi sama seperti dulu. Dari situ juga Jo mulai menulis lebih jujur dari hatinya sendiri, bukan hanya demi uang.


    Salah satu adegan yang paling saya suka adalah ketika Jo dan Laurie menghadiri pesta dansa. Karena sepatu Meg terlalu sempit dan membuat kakinya sakit, Jo dan Laurie akhirnya keluar dari pesta lebih awal. Setelah itu mereka menari dengan bebas dan asal-asalan di beranda rumah Laurie. Adegan itu terasa hangat sekali karena Jo bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus berpura-pura anggun seperti perempuan lain pada masa itu.


Lalu ada adegan yang menurut saya paling emosional dalam hubungan Jo dan Laurie. Saat pernikahan Meg berlangsung, Laurie membawa Jo pergi ke sebuah bukit yang sepi. Di sana Laurie akhirnya mengungkapkan perasaannya kepada Jo. Laurie mengatakan bahwa ia mencintai Jo apa adanya dan ingin selalu bersama Jo.


    Adegan itu terasa sedih karena sejak awal mereka memang sangat dekat. Mereka tumbuh bersama, bercanda bersama, menari liar bersama, dan saling mengerti tanpa perlu banyak bicara. Tetapi Jo menolak perasaan Laurie. Bukan karena ia tidak sayang kepada Laurie, justru karena Jo terlalu menyayanginya sebagai sahabat. Jo merasa jika mereka menikah, hubungan mereka akan berubah dan tidak lagi bebas seperti dulu. Jo juga merasa dirinya tidak cocok hidup sebagai istri biasa. Ia lebih ingin hidup bebas, menulis, dan menentukan jalan hidupnya sendiri.


    Di versi 1994, adegan penolakan itu terasa lebih lembut dan tenang. Laurie terlihat sedih tetapi masih bisa menerima perkataan Jo secara perlahan. Sedangkan di versi 2019, adegannya terasa lebih emosional dan menyakitkan. Laurie terlihat benar-benar kecewa, sementara Jo sendiri juga menangis karena sadar ia menyakiti orang yang paling dekat dengannya. Menurut saya versi 2019 membuat adegan itu terasa lebih nyata, seperti dua sahabat yang sama-sama kehilangan sesuatu.


    Yang menarik, pada akhirnya Laurie justru menikah dengan Amy March. Awalnya saya merasa hubungan itu cukup mengejutkan, karena sepanjang cerita Laurie lebih dekat dengan Jo. Tetapi semakin dipikir, Amy sebenarnya lebih cocok dengan Laurie ketika mereka sudah dewasa. Amy berani menegur Laurie saat hidupnya mulai berantakan di Eropa, sementara Laurie merasa lebih tenang ketika bersama Amy. Hubungan mereka terasa lebih dewasa dibanding hubungan Laurie dan Jo yang lebih seperti sahabat masa kecil.



    Tidak lupa juga dengan adegan  versi 2019, yaitu ketika  Jo mengejar Friedrich Bhaer  di tengah hujan. Setelah sebelumnya Jo terlihat selalu ingin hidup mandiri dan menolak bergantung kepada siapa pun, di adegan ini Jo akhirnya memperlihatkan sisi rapuhnya. Suasana hujan, cahaya lampu malam, dan cara mereka saling memandang membuat adegan itu terasa sangat emosional tetapi juga hangat.

    Hubungan Jo dan Friedrich terasa berbeda dibanding Jo dan Laurie. Jika Laurie adalah teman masa kecil yang tumbuh bersamanya, maka Friedrich hadir ketika Jo mulai dewasa dan mulai memahami dirinya sendiri. Friedrich juga mendorong Jo untuk menulis lebih jujur dari hati, bukan sekadar menulis cerita sensasional demi uang. Karena itu hubungan mereka terasa lebih tenang dan dewasa.

    Di situlah menariknya Little Women. Film ini tidak selalu memberikan cinta seperti yang penonton harapkan. Kadang orang yang paling dekat dengan kita belum tentu menjadi pasangan hidup kita. Dan kadang cinta juga berarti menerima penolakan, lalu tetap tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

    Semakin saya membandingkan versi 1994 dan 2019, saya merasa keduanya memiliki kelebihan masing-masing. Versi 1994 terasa seperti dongeng keluarga yang hangat dan nyaman, sedangkan versi 2019 terasa lebih realistis, emosional, dan modern dalam membahas perempuan, cinta, dan pilihan hidup. Karena itu saya merasa menonton dua versi film ini memberikan pengalaman yang berbeda walaupun menceritakan kisah yang sama. Dan setelah menonton dua-duanya, saya jadi semakin ingin membaca novel aslinya.

    Mungkin itu alasan kenapa Little Women masih terasa relevan sampai sekarang. Ceritanya sederhana, tetapi perasaan yang ditinggalkan setelah menontonnya terasa lama. Tentang keluarga, kehilangan, mimpi, dan bagaimana setiap orang akhirnya memilih jalan hidupnya masing-masing.

                                                                                                              Takamatsu, Jepang 14-05-2026


MARAKNYA SEBUAH FESTIVAL DI SUMATERA BARAT

Rabu, 04 Desember 2019 | komentar


Dikutip oleh wikipedia Festival, dari bahasa Latin berasal dari kata dasar "festa" atau pesta dalam bahasa Indonesia. Festival biasanya berarti "pesta besar" atau sebuah acara meriah yang diadakan dalam rangka memperingati sesuatu. Atau juga bisa diartikan dengan hari atau pekan gembira dalam rangka peringatan peristiwa penting atau bersejarah, atau pesta rakyat. Sering pula disalah artikan dengan kata sayembara atau perlombaan (kompetisi). Jenis-jenis festival : Festival film, Festival musik, festival makanan, festival seni, festival budaya
Daerah  Sumatera Barat yang di huni oleh orang beretnis Minang, yang dikenal dengan Suku Minangkabau adalah salah satu di Indonesia yang menganut paham matrilinial atau garis keturunan berdasarkan pihak ibu. Suku ini dikatakan memiliki kebudayaan tinggi dan falsafah adat yang religius berdasarkan asas agama Islam. ABS-SBK adalah singkatan adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah. Diartikan sebagai adat yang selalu bersendi syariat agama tertaut pada kitab suci.
Dalam  satu dekade terkakhir ini wilayah Sumatera Barat sedang marak-maraknya membuat sebuah festival. Festival yang dibuat kebanyakan berupa festival berlandaskan seni budaya. Festival ini berpusat di kota-kota besar dan beberapa kota kabupaten. Platform yang berkembang adalah festival modern yang menunjukkan sebuah eksistensi kebudayaan. Mengangkat dan memamerkan ke pada Publik.
Festival merupakan sarana komunikasi yang penting untuk membangun, memberdayakan, dan pengakuan suatu identitas budaya.  Karenanya, sebagai sebuah sarana komunikasi, maka sudah selayaknya sebuah event festival direncanakan melalui proses perencanaan strategis komunikasi agar dapat berjalan dengan efektif (Adrienne L. Kaeppler dalam Falassi. 1987: 23).
Beberapa Festival yang ada di Sumatera Barat yang ada berkembang mencoba mengaet apa itu yang namanya Pariwisata. Karena sekarang lagi marak-maraknya pengembanagan tentang Pariwisata oleh Pemerintah Pusat dan tak tertinggal Pemerintah Daerah. Pariwisata katanya berfungsi sumber ekonomi dan perkembangan industri kreatif dalam masa yang sekarang di kenal Revolusi Industri 4.0.
Pertama, Pasa Harau Art & Culture Festival adalah festival yang di laksanakan sesuai dengan namanya yaiitu di wilayah Harau atau dikenal dengan Lembah Harau, Nagari Harau, Kabupaten Limapuluh Kota Sumatera Barat. Festival ini mempertunjukan berbagai macam kegiatan seni yaitu penampilan seni pertunjukan tradisi dan kontomporer yang melibatkan beberapa seniman lokal dan luar tentu saja selain pertunjukan seni juga ada hindangan kuliner khas Harau. Festival Pasa Harau Art & Culture Festival dirancang juga sebagai daya tarik untuk peningkatan wisata, sehingga nama Harau akan terkenal dan mendatangkan orang banyak untuk meningkatkan ekonomi masyarakat setempat
Kedua, Sawahlunto International Songket Silungkang Carnival merupakan sebuah festival yang .diadakan di Kota Sawahlunto, kota yang terkenal dengan tambang batu baranya sejak era kolonial, Festival ini merupakan festival yang mengangkat sebuah fashion yaitu songket. Sawahlunto memiliki sebuah songket yaitu songket Silungkang namanya. Selain itu juga da parade budaya  dan fashion show peragaan busana songket silungkang yang merupakan khas Minangkabau. Festival ini melibatkan instansi pemerintah di dalam negeri dan juga instansi luar negeri, sehingga Sawahlunto akan semakin terkenal dilihat oleh dunia Internasional tentu juga meningkat ekonomi masyarakat sekitar.
Ketiga, Silek Art Festival adalah sebuah festival yang bertujuan untuk membangun dan melestarikan budaya Silat di daerah Minangkabau yang di kenal dengan Silek. Silek merupakan seni bela diri di Minangkabau yang sudah ada sejak lama, dengan adanya festival Silek Art merupakan wadah sebagai memperkenalkan silek kepada masyarakat terkini di Sumatera Barat dan mengenalkannya ke luar Sumatera Barat. Festival ini didukung oleh Platform Indonesiana, sebuah badan yang di bentuk pemerintah untuk memfasilitasi pendanaan acara kegiatan kebudayaan untuk memperkenalkan pada dunia Internasional dan menjadi bagian dari perkembangan pariwisata Indonesia.
Dari 3 Festival ini adalah perwakilan dari berbagai macam festival yangg ada di Sumatera Barat. Festival ini termasuk festival modern karena belum ada di laksanakan atau di temukan Sumatera Barat selama ini  dalam sejarah di lihat dari jaman orde lama atau orde baru. Festival ini di selenggarakan oleh Dinas dari pemerintahan yang memang giat giat mengkampayekan pariwisata, festival ini juga turut menggunakan stake holder  dan staff ahli di luar pemerintahan untuk mengelola festival, karena orang pemerintahan tidak semua mengerti seni. Maka dari itu banyak seniman, praktisi budaya, akademisi ikut dalam merancang festival. Festival ini berkembang menjadi acara tahunan sebagai eksistensi suatu kebudayaan yang katanya perlu di lestarikan walaupun ada pemanfaatan unsur politis oleh pejabat daerah atau kepala dinas yang tidak memiliki tujuan murni tentang kebudayaan

Merawat Memori Bangsa Melalui Film

Minggu, 15 September 2019 | komentar



Film merupakan karya seni, film lahir dari perkembangan teknologi dan kebudayaan oleh umat manusia. Film yang merupakan karya seni adalah seni yang menangkap hampir semua aspek kesenian dengan kemajuan teknologi yang dikembangkan oleh manusia. Film memainkan peran penting sebagai media komunikas massa yang berfungsi sebagai pusat informarsi, edukasi, hiburan dan juga propagada barangkali. Film adalah produk budaya, karena film merekam atau mengabadikan suatu keadaan jiwa zaman yang hidup, melalui gambar bergerak yang bisa kita lihat, kita dengar sebagai karya audio visual pandang dan dengar, film menjadi sebuah objek sumber sejarah, karena dia selalu merekam peristiwa dari masa ke masa melalui produksi film baik itu film dokumenter atau film cerita, semua mengandung makna yang bisa di interprestasikan dan di kaji untuk masa yang akan datang maupun kontemporer. Indonesia telah banyak melahirkan film dimulai saat negara ini masih dijajah oleh Kolonial Hindia Belanda. Film yang dibuat era kolonial pertama kali di buat oleh orang Eropa dan Cina, tetapi mengambil unsur dan cerita lokal yang ada di Nusantara dan juga penyerapan unsur cerita asing kemudian di buat versi lokalnya (Nusantara). Film di Indonesia yang berkembang pada wauktu itu di Batavia (Jakarta) terus menyebar, keseluruh daerah perkotaan dan perkampungan yang ada, semua orang tertarik dengan fenomena gambar bergerak (moving picture).
Film sebagai seni yaitu menangkap sebuah peristiwa. Seni sebagai peristiwa. Ya, ini sebuah perspektif yang menarik dan menantang untuk melihat seni. Peristiwa! Suatu ungkapan yang menunjuk suatu kejadian yang tidak bisa kita maknai sepenuhnya namun justru karena itu kita ingin kembali ke sana terus-menerus. Peristiwa menjadi titik tolak dan referensi hidup manusia. Hidup kita sehari-hari—baik pribadi maupun kolektif, entah sadar atau tidak senantiasa bertitik  tolak dari suatu peristiwa dan senantiasa menanti peristiwa-peristiwa baru.[1] sebuah peristiwa yang tertangkap layar kamera menjadi abadi, karena kamera film menjadi alat yang mumpuni karena semua unsur masuk, film merekam suatu kebudayaan manusia yang hidup bisa dilhat lagi. Film kemudian menjadi ingatan memori. Film adalah memori sosial kolektif, mereka di produksi di tonton oleh banyak orang pada masa kemudian suatu saat bisa menjadi Vintage[2] yang dirindukan bahkan di puja berbeda aspresiasinya di masa lalu. Memori film adalah sejarah publik bagi masyarakat.
Pada tanggal 11 September 1933 di Rangkas Bitung, Lebak, Banten lahir seorang anak manusia yang pada masa akan datang menjadi manusia yang peduli dengan kebudayaan. Manusia ini bernama H. Misbach Yusa Biran, anak dari keluarga Digoelis yang dibuang di Pulau Buru, Papua. Ayah adalah pemberontak berideologi sosialis dari Padang Panjang  sedangkan Ibunya adalah anak dari pejuang bangsawan Banten yang berani melawan Belanda. Hidup dilingkungan orang pergerakan membuat pemikiran H. Misbach Yusa Biran berbeda dengan anak-anak seumurnya pada masa itu, di tambah lagi beliau bersekolah di Taman Siswa sekolah yang terkenal dengan pendekatan belajar dan kesenian. H. Misbach Yusa Biran memiliki kedekatan dengan seni sejak dini, disaat anak muda belum senang fotografi dia sudah memulai belajar fotografi, membuat sandiwara menjadi sutradara, menulis sajak dan resensi film.
Pada waktu itu Film menjadi bahan hiburan dan alat dagang, untuk mencari uang semata oleh para pembuat film dari etnis Cina dan Eropa saja. Muncul Pribumi Usmar Ismail yang melihat film bukan hanya alat hiburan untuk uang saja, film bisa berfungsi sebagai kampanye ideologi Nasionalisme. Saat itu perlu pemahaman Indonesia sebagai Nation (bangsa) karena baru lepas dari Jepang dan Merdeka serta usai dari pendudkan Belanda kembali melalui Agresi Militer. Indonesia membutuhkan corong penyampai informasi bahwa Indonesia adalah bangsa bebas dan Merdeka. Film terus berkembang makin banyak bermacam jenis dan genre, lahir sutradara baru tak terkecuali H. Misbach Yusa Biran, yang sempat menjadi asisten sutradara Usmar Ismail. H. Misbach terus bergerak di bidang perfilman setelah lepas dari Studio Perfini yang dibangun Usmar Ismail, antara lain membuat skenario dan menyutradarai film, salah satu filmnya yang terkenal yaitu Di Balik Cahaya Gemerlapan (1967). H. Misbach Yusa Biran berhenti dari membuat film sebagai protesnya terhadap  dunia film tahun 70an yang banyak memproduksi film porno, H. Misbach berhasil memproduksi film Tauhid di Mekah sebagai film terakhirnya sebelum pensiun dari dunia film. H. Misbach Yusa Biran menyadari bahwa Film ini adalah harta karun kebudayaan bangsa, karena film adalah bagian dari Sejarah masyarakat Indonesia, kemuidan H. Misbach Yusa Biran merintis sebuah Arsip Film yang bernama Sinematek Indonesia. Sinematek Indonesia diriintis sejak Januari 1971 dalam lingkungan LPKJ atau IKJ sekarang, Sinematek ini di beri nama Pusat Dokumentasi film, pada awal bukan mengarsip film, tapi hanya menghimpun dokumen-dokuemn film untuk kepentingan penulisan sejarah film Indonesia dan bahan ajar untuk di Institutut Kesenian Jakarta. Arsip film baru muncul tahun 1973, setelah mendapat orientasi di Belanda dan Eropa. Sejak tahun 1973 lembaga ini ambil bagian dalam ajang Festival Film Indonesia(FFI) dan membuat Pameran Sejarah Film Indonesia. Baru pada 20 Oktober 1975 berdirilah Sinematek Indonesia (SI) dengan SK Gubernur DKI oleh Ali Sadikin. SI berkedudukan di gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail. SI merupakan bagian utama Pusat Perfilman ini, bagian lain digunakan sebagai fasilitas ruangan sekretariat ogranisasi perfilman dan Yayasan Artis Film. Sinematek Indonesia menjadi lembaga arsip film pertama di Asia Tenggara. Pada tahun 1978 SI bergabung dalam FIAF (Federation Internasionale des Archives du Film), dan merupakan arsip film pertama dari Asia yang tergabung dalam Asosiasi Internasional. SI menjadi tempat belajar dan ziarah bagi akademisi, seniman, dan rakyat biasa untuk melihat sejarah  budaya film Indonesia, melihat kebudayaan melalui pantulan layar putih.






[1] St. Sunardi, Seni Sebagai Peristiwa (Evakuasi Subyek), Kalam 27 / 2015.
Esai ini disampaikan dalam diskusi Seni sebagai Peristiwa: Pengalaman Indonesia 20 Tahun Terakhir di Serambi Salihara, Selasa, 05 Februari 2013.
[2] Dalam hal desain, vintage umumnya mengacu pada benda atau benda buatan yang mewakili atau berasal dari periode waktu sebelumnya

Dua Garis Biru (2019) Tak Sekedar Married by Accident

Selasa, 23 Juli 2019 | komentar




sumber : https://pbs.twimg.com/media/EAJ3GXkVUAEoNla.jpg

Film ini bermula dari penampakan adegan di sebuah ruang kelas yang riuh kemudian beralih ke adegan rumah, pemain utama Dara dan Bima bercengkrama dengan romantis, memperlihatkan aura muda mudi yang penuh dengan gelak tawa,candaan, kesenangan, gelora cinta masa muda. Berkelanjutan pada adegan di ranjang antar Dara yang membelakangi Bima di balik selimut, yang memulai awalan dari cerita film ini.
Film ini berbicara tentang katanya kenakalan remaja tapi di lihat dari sisi tak biasa, jauh dari kesan negatif penuh cacian, makian, sumpah serapah, dan stigma. Cerita film memberi pola pikir membangun pada masyarakat bagiamana melihat dan merespon permasalah remaja saat ini, dengan pandangan yang bijak, tapi tidak keluar jalur, pada hal yang dinyatakan salah atau benar. Semua tidak terlepas dari peran siapapun dan lingkungan yang membentuk budaya sosial tersebut.
Masyarakat Indonesia yang dikenal sangat religius dari tingkat pedesaan dan perkotaan. Gambar kebudayaan Pop dan budaya urban perkotaan terlihat dengan jelas menggandurungi orang-orang muda, membedakan orang orang tua jaman dulu, sehingga menimbulkan budaya yang namanya milinealls.
Budaya Urban itu terlepas dari sisi religius kaku, budaya urban memberi kebebasan perilaku. Dimana muda mudi sangat terpengaruh dengan budaya pop dari luar. Dara pemain utama film ini adalah gadis muda yang sangat terobsesi dengan budaya baru dari negara Gingseng yaitu K-POP. Dilihat sekarang ini betapa mendarah daging nya pengaruh K-POP pada remaja perempuan Indonesia, betapa tergantung mereka dengan K-POP mulai dari pernak-pernik aksesoris, bahasa, tontonan, mereka meniru dan menganggap itu keren dan penting. Dara dalam film ini pun menyebut para Boyband dan Idol korea ini dengan suami-suaminya, Dara yang dikenal sebagai perempuan cerdas di sekolah bahkan bercita-citu untuk studi di Korea.
Hubungan Dara dan Bima yang di sebut kecelakaan dari semangat masa muda dan rasa penasaran keinginan tahuan yang tinggi para remaja. Membuat hubungan mereka menjadi renggang, berbagai macam pemikiran dan rasa bersalah bermunculan. Ketakutan mengahampiri karena ketidaksanggupan dan kesiapan menghadapi masalah yang tercipta. Batasan Umur dan Ekonomi tak bisa mengantarkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi karena sangat rumit. Pemikiran remaja yang hanya ingin bersenang-senang bermain, kesana-kesini, serta belajar dan sekolah.
Perspektif Patriaki juga terlihat di mana peremuan hampir selalu menjadi pihak yang harus menerima dan mengalah, pada waktu Dara mengalami kecelakaan terkena lemparan Bola disekolah yang akhir menyebabkan ketahuannya Kehamilan Dara, membuat kedua orang tua Bima dan Dara harus datang kesekolah, Karena mengetahui Dara hamil meminta dara untuk Drop out dari sekolah padahal Dara adalah murid berpretasi, dengan alasan peraturan sekolah dan kehamilan, dan tidak pada Bima. Permasalah kemiskinan dan Kekayaan terlihat mempengaruhi kultur pemikiran bagaimana melihat situasi permasalahan dalam mengambil keputusan.
Dua Garis biru memberi kita pada pemikiran yang berkepanjangan dari pada sebuah pemikiran yang pendek, masalah besar tentu menimbulkan efek besar, tapi masalah besar itu di atasi dengan pemaafan dan keterbukaan tentu akan menimbulkan hal yang baik dan perbaikan diri menjadi lebih baik daripada berlarut-larut dalam penyesalan dan umpatan semata.
Masalah-masalah sosial kontemporer sangat apik di tampakan dalam film ini, dimana anak-anak sekolah yang harus belajar terjerat pernikhan di usia muda yang mengakibatkan kehamilan. Dalam segi usia, hal tersebut belum tepat pada waktunya dalam hal mengurus anak. Usia muda tersebut masih rentan terhadap hal yang bersifat senang-senang, belum siap untuk berpikir dan bergerak susah payah untuk namanya kehidupan sesungguhnya yang di jalankan orang dewasa baik secaara psikologis dan fisik. Dimana Bima sempat bekerja hanya untuk hasrat dirinya, bekerja pamrih di restoran milik ayahnya Dara yang kini menjadi istrinya sehingga sekolahnya menjadi terlupakan, Hingga muncul peristiwa perdebatan dimana jika Dara melahirkan anaknya akan pada om dan tante Dara, kemudian hal ini di tolak oleh Dara, yang masih muda tapi karena muncul naluri keibuannya. Dia tidak tega jika anaknya tidak di rawat oleh darah Dagingnya sendiri yaitu Ayahnya Bima dan Dara sendiri.
Dara yang merupakan anak pintar di sekolah tentu mempunyai cita-cita, yaitu ingin melanjutkan studi di perguruan tinggi di Negeri Ginseng Korea, tempat asal muasal idola-idolanya. Dalam keadaan yang tidak memungkinkan memikirkan cita-cita, Dara masih berharap untuk meneruskan cita-cita nya tanpa harus mengobarkan kebutuhannya. Dara mempercayakan bayinya yang lahir akan di rawat oleh Bima, terlepas dari penderitian sebagai ibu yang melahirkan hingga harus melakukan operasi mengangkat  rahim setelah melahirkan, Dara tetap kuat melihat kenyataan dan memikirkan hal hal yang terbaik yang akan dilakukan walaupun bagaiamna pun, dia mencintai anaknya sebagai seorang yang baru saja menjadi ibu, melahirkan darah dagingnya dan tetap membangun rasa kekeluargaan yang tinggi, tanpa harus mengorbankan impian yang di idam-idamkannya, Kepercayaan antara Dara dan Bima, membuat hubungan mereka tetap menjadi utuh setelah terjadi perdebatan pemberian hak asuh anak dan Isu perceraian.

Yusuf Kurniawan Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Andalas  Alumni Finalis Mahasiswa Bicara Film UI Film Festival, Depok 2019.


Perempuan dan Gerakan Sosial pada Film Lissa Russell

Senin, 19 November 2018 | komentar



Bentara Budaya Bali 16-17 Novemmber 2018, melalui program Sinema Bentara mentengahkan film-film pilihan yang terangkai dalam tajuk “Cerita Orang Biasa”.  Program di katakan masih dalam memaknai Hari Pahlawan, namun tidak menanyangkan sosok pahlawan dengan kisah heroik dalam sebuah perang yang dramatik, sebagaimana yang biasa di lihat dalam film. Film yang ditampilkan justru menyentuh haru  kita lantaran kejadianya justru bisa terjadi pada kesaharian siapa saja.
Pada hari pertama Jum’at 16 November 2018, film yang ditayangkan adalah Tampan Tailor (Indonesia, 2013, Sutradara Guntur Soeharjanto); La Douleur (Prancis, 2017, Sutradara Emmanuel Finkiel); dan film-film pendek terpilih dari program East Cinema seperti From The Edge of Sanity (Bosnia & Syria, 2017, Sutradara Miliana Majar); Arrival (Irak, 2018, Sutradara Mustafa al-Janabi) dan It’s Back Then (Irak, 2018, Sutradara Wathab Siaga)
Pada hari kedua Sabtu 17 November 2018, film yang ditayangkan adalah film-film dari Lissa Russel antara lain Mothe’s Cry (2015), Heroines of Health (2017) dan Create2030 (2018). Lissa sebelumnya menjadi pembicara yang dihadirkan di Forum World Conference on Creative Economy (WCCE) yang diselenggarkan oleh Badan Ekomoi Kreatif Indonesia di Nusa Dua Bali, 6-8 November 2018. Lissa Russel adalah seniman, kurator, juga pembuat film dokumenter pemenang penghargaan Emmy Award. Ia telah diundang sebagai pembicara di TEDx, World Creative Economy 2018, dan sejumlah pertemuan internasional penting di berbagai proyek pembangunan internasional yang melibatkan relawan kemanusiaan. Hal tersebut menjadi inspirasi untuk karya filmnya mengenai kesehatan dan kesejahteraan masyarakat global.
Mother’s Cry
(USA, 2015, Poetry Video, Durasi: 3 menit Sutradara: Lisa Russell)
“Mother’s Cry” merupakan film pendek pemenang penghargaan berbagai festival film internasional yang menampilkan penyair muda terkenal, Savon Bartley. Ia menyuarakan isu perubahan iklim dengan menggunakan puisi-puisi terpilih sebagai media bercerita.  Film ini sangat bernilai artistik dengan menggunakan kumpulan footage tentang keaadaan alam di dunia dan menggabungkan dengan adegan sang penyair, Savon Bartley  membacakan puisinya  IBU: Panggilan Puitis untuk Memerangi Perubahan Iklim secara tumpang tindih dengan footage yang menggambarkan keadaan alam sekarang. Film mengkampayekan gerakan artistik untuk membantu menempatkan perubahan iklim di garis depan dunia yang paling banyak dibicarakan kaum muda. “Mother’s Cry” telah ditayangkan pada lebih dari 15 festival film internasional yang menaruh perhatian khusus pada isu perubahan lingkungan dan sosial. Film ini juga ditayangkan di PBB pada acara DPI Youth Briefing on Climate change dan International Youth Day 2016.
Heroines of Health
(USA, Dokumenter, 2017, Durasi: 28 menit, Sutradara: Lisa Russell)

3 perempuan. 3 negara . 3 cerita yang tak terungkap. Hingga kini. Itulah ungkapan tersurat dalam film ini. Heroines of Health adalah sebuah film baru yang diproduksi oleh GE Healthcare, disutradarai oleh Lissa Russell, memberikan pandangan yang mendalam tentang kehidupan tiga wanita yang luar biasa – Dr. Sharmila (India), Mercy (Kenya) dan Ibu Rohani (Indonesia) – yang telah mengatasi tantangan luar biasa untuk menjadi kekuatan penyelamat hidup tentang kesehatan global di komunitas mereka. Perempuan dalam film ini digambarkan menjadi sosok yang penting dalam lingkungan mereka, berperan sebagai pelayan masyarakat, Khusus para perepuan dunia belahan ketiga.
Dalam tiga dasa warsa terakhir ini pengakuan dunia terhadap pentingnya peran perempuan dalam pembangunan semakin meningkat, karena perempuan merupakan kelompok yang mewakili separuh dari penduduk dunia. Dari sisi pembangunan, perempuan merupakan lebih separuh dari pelaku pembangunan dan lebih separuh dari pemanfaat hasil pembangunan. Sebelum Dekade Wanita PBB dikumandangkan pada tahun 1975-1985, posisi dan peran telah diperhatikan oleh pemerintah dunia ketiga dan oleh organisasi internasional seperti WHO dan UNICEF. Peran perempuan pada masa itu terbatas pada upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat umumnya. Perempuan menjadi sasaran program pembangunan di bidang kesehatan dan program “belas kasihan” yang menggap perempuan perlu dikasihani (Slamet Widodo, 2008).
Mercy, Dr. Sharmila dan Ibu Rohani berasal dari latar belakang yang berbeda. Mereka berbicara bahasa yang berbeda. Namun mereka berbagi perjalanan yang sama, mengatasi tantangan dan harapan yang curam untuk membawa kesehatan yang lebih baik bagi komunitas mereka. Dewasa ini, wanita membentuk 75% dari tenaga kerja kesehatan global, namun terlalu sering pekerjaan mereka tidak diakui. Ini adalah tiga dari banyak cerita yang tak terhitung yang dapat memegang kunci untuk membuka kunci kesehatan yang lebih baik bagi lebih banyak orang di seluruh dunia.
#Create2030
(USA, Dokumenter, 2018, Durasi: 5 menit, Sutradara: Lisa Russell)
# Create2030 adalah film baru, sebentuk kampanye kreatif untuk melibatkan seniman dalam memenuhi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), atau dikenal sebagai Global Goals. Film ini diproduksi dengan dukungan Kelompok Advokasi SDG PBB untuk melibatkan seniman di SDG. Misinya adalah merekrut dan memobilisasi seniman yang memiliki kesadaran sosial dan berkomitmen untuk menggunakan potensi serta bakat mereka guna kebaikan sosial di sekitar Global Goals. Film ini dinarasikan oleh Laolu dengan musik oleh Ray Angry dan menampilkan seniman termasuk Zap Mama, Toni Blackman, Bilal, Ivan Katz, Jared Green, Mari Malek, dan lain-lain. Film ini membawa isu global yang dibahas di World Conference Cretative of Economy dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Setelah pemutaran Lissa Russel menyampaikan proses kreatifnya ketika dia masih kecil dia sudah tertarik dalam hal kreativitas seperti melukis, menyanyi, menari dan pelajaran sains, tetapi saat itu Lissa belum bisa mengkaloborasikan semua hal itu. Lissa tinggal bersama seorang ibu yang sangat tegas tanpa seorang ayah, dan ibunya sangat bekerja keras untuk menghidupinya dan suatu hari ibunya berkata saya tidak ingin membiayai kamu jika kamu hanya menjadi seorang seniman.  Ibunya menginginkan Lissa mendapatkan pekerjaan yang diterima masyrakat umum dan pekerjaan pertama yang harus di hadapi nya adalah bekerja di daerah konflik, dan ibu tidak bahagia dengan itu. Dan akhirnya ibu lebh senang Lissa bekerja sebagai seorang seniman. Kesadaran pertamanya menjadi seorang storyteller adalah ketika dia bekerja di Kosovo dan Albania. Lissa banyak mengunjungi camp-camp pengungsi dan mereka sangat tidak suka pada wartawan karena apa yang mereka ceritalkan di media. Jadi ada suatu kisah di Kosovo  yang ditulis oleh seorang jurnalis, dimana dia  menulis berita tentang pemerkosaan perempuan  dan mereka berpikir itu bukan hal yang ingin di ingat oleh orang lain merenpretasikan     mereka dengan berita seperti itu. Para perempuan Kosovo ingin di ingat sebagai seorang yang memiliki satu integritas, satu kepribadian yang utuh dan bukan sebagai korban. Dan karena Lissa tinggal bersama seorang ibu yang kuat tanpa ayah, sangat berjuang untuk hidup. Jadi Lissa sangat paham  bagaiamana  posisi yang dialami perempuan Kosovo dan meningkat kepercayaan diri sebagai seorang perempuan. Dan pada saat itu Lisea ingin menceritakan hal ini dan Lissa belajar sebagai pembuat film dalam 3 tahun. Sejak saat itu Lissa       bersungguh-sungguh untuk membuat film, dia menulis sendiri, menyutradari, videografer, editing, dan produksi film nya sendiri. Dan Lissa hanya ingin membuat  film yang bisa memberikan suatu dampak yang postitif untuk dunia.                                                                                                                                                       

Sumber Data
Youtube.com
Slamet Widodo. 2008. Perempuan dan Pembangunan. Dalam httip://learing-ofslametwidodo.com/2008/02/01/perempuan-dan-pembangunan/  (1 febuari 2008) diakses tgl 18 November 2018 jam 08.41                                                                                                                                                                                                          





Review Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak

| komentar


  
Marlina si Pembunuh  dalam empat babak film arahan sutradara Mouly Surya, sutradara bergaya feminis mampu menyedot perhatian khalayak dunia perfilman Indonesia.  film ini menjadi film Indonesia pertama yang menerima subsidi dari Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Kebudayaan Prancis, sehingga film ini melalang buana berbagai festival di luar negeri dan 2019 akan masuk nominasi Oscar dan mewakili Indonesia.
Tokoh Marlina yang di perankan Marsha Timonthy begitu kuat karakternya, Ceritanya pun sangat fresh sangat berbeda dengan film kebanyakan saat itu yang diproduksi, Pemilihan daerah Sumba di NTT yang terkenal masyarakat masih kental kearifan lokalnya cukup menggairahkan, dengan mengkisahkan seorang janda  yang tinggal jauh dari keramaian  tapi memiliki kekayaan ternak yang berlimpah, anak mati suami di jadikan mumi, shot yang paling banyak di ambil adalah long shot tentu saja ini ada maknanya kalau tidak lain adalah untuk menampilkan alam sumba yang indah dan juga bisa termasuk daya tarik wisata apalagi film ini berkelana keluar negeri, bisa diramal Sumba akan kebanjiran wisatawan setelah film ini di tonton oleh orang mancanenagara. 
Semua pemain film ini adalah aktris dan aktor film sungguhan tidak ada yang mengambil orang Sumba asli sebagai pemain inti mungkin disini lah kurangnya. Di sisi lain film ini menampilkan sebuah ketimpangan sosial tentang sarana dan prasarana dimana orang di kota tidak mau lagi naik kendaraan umum, lebih mengutamakan kendaraan pribadi.  Di daerah timur sana malah kekurangan kendraan umum. Sound film ini sangat mengenakan telinga musiknya begitu pas dengan keadaan alam sekitarnya.
Cerita si Marilina yang awal langsung di datangi perampok begitu saja yang membuat Marlina terkejut dan dengan santai maling masuk dan memberitahu tujuanya dan akhirnya terjadilah penjarahan dan pemerkosaan, Marlina melawan dan membunuh Markus si maling dan merancuni temannya yang lain. Sampai Marlina kabur ke kota dengan kepala Markus bertemu temannya  novi, Marlina merasa bersalha dan mengatakan ke Novi dia mau pergi ke kantor polisi, setibanya truk banyak orang yang meminta Marlina turun tapi malah Marlina yang membuat mereka yang turun sampai perjalanan Marlina di kejar oleh kawan Markus yang belum mati dan Setiba di kantor polisi pun Marlina tak mau terlalu mengaku, dan akhirnya cuma laporan yah sekedar laporan polisi hanya sebatas megetik laporan tindakana lambat. Sampai akhirnya, Novi di tawan meminta Marlina balik kerumahnya dan terjadi lah pengulangan pemerkosaan, meracuni dan akhirnya membunuh.



 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Manusia Berpikir - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger