Tampilkan postingan dengan label seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seni. Tampilkan semua postingan

Catatan Pengalaman Menonton Film Little Women 1994 & 2019

Rabu, 13 Mei 2026 | komentar



    Little Women
adalah film adaptasi dari buku yang berjudul sama karya Louisa May Alcott. Film pertama tayang pada tahun 1994 disutradarai oleh Gillian Armstrong, sedangkan film kedua tahun 2019 disutradarai oleh Greta Gerwig. Keduanya adalah sutradara perempuan, jadi film ini benar-benar terasa diambil dari sudut pandang perempuan.

    Bukunya sendiri ditulis tahun 1868, setelah perang saudara di Amerika Serikat selesai. Jujur saya belum pernah membaca bukunya, tetapi sekarang sedang mencoba memesannya dari Indonesia karena saya sekarang tinggal di Jepang. Saya ingin sekali membaca novel aslinya, karena menurut saya membaca buku memberi pengalaman yang berbeda. Kita bisa membangun imajinasi visual sendiri dari kata-kata yang kita baca. Walaupun nanti bayangan saya pasti sudah sedikit bias karena sudah menonton kedua adaptasi film Little Women, saya tetap penasaran ingin membaca versi novelnya langsung.

    Saat pertama menonton Little Women versi 2019, jujur saya agak kurang mencerna alur ceritanya. Rupanya film ini memakai alur maju mundur. Untuk orang yang belum membaca bukunya, menurut saya film ini cukup membingungkan. Saya sampai perlu menonton dua kali supaya benar-benar paham. Setelah itu saya menonton versi 1994, dan ternyata film pertama ini memakai alur yang lebih berurutan sehingga lebih mudah diikuti.


    Film ini menceritakan tentang keluarga March di Concord, Massachusetts, Amerika Serikat. Sebuah keluarga yang bisa dibilang tidak miskin, tetapi juga tidak kaya. Mungkin lebih tepat disebut hidup sederhana. Mereka tinggal di rumah yang hangat bersama sang ibu, Marmee March, dan keempat putrinya: Meg March, Jo March, Beth March, dan Amy March. Di rumah itu juga ada Hannah, pembantu keluarga mereka yang sudah sangat dekat seperti keluarga sendiri.

    Marmee March adalah sosok ibu yang sangat inspiratif bagi anak-anaknya. Ia tidak takut hidup berkekurangan selama masih bisa berbagi kepada orang lain. Ia mengajarkan anak-anaknya tentang belas kasih, kesederhanaan, dan nilai spiritual yang kuat. Pada malam Natal mereka berkumpul membaca surat dari ayah mereka yang sedang berada di medan perang. Keesokan paginya keluarga March mendengar kondisi keluarga Hummel yang miskin dan anak-anaknya sedang kelaparan serta sakit. Tanpa ragu mereka pergi membawa makanan dan bantuan.

    Di perjalanan menuju rumah keluarga Hummel, mereka berpapasan dengan tetangga mereka yang kaya raya, yaitu Mr. Laurence dan cucunya Laurie, yang sedang pergi ke gereja dengan pakaian mewah. Dari sinilah Laurie mulai tertarik dengan keluarga March, terutama kepada Jo March. Pada malam harinya, ketika Jo dan saudara-saudaranya sedang latihan sandiwara di rumah, mereka melihat Laurie dari balik jendela sedang bermain piano sendirian. Adegan-adegan seperti ini muncul dengan sangat hangat di film versi 1994.


    Lalu berpindah ke film versi 2019. Film dibuka dengan adegan Jo March  pergi menemui Mr. Dashwood disebuah kantor penerbit di New York Karena Jo adalah seorang penulis, ia mencoba menjual cerita pendeknya demi mendapatkan uang. Semua anak keluarga March sebenarnya mempunyai bakat masing-masing. Jo sangat berbakat menulis, Meg yang tertua cantik dan pandai bermain teater, Beth sangat lembut dan berbakat bermain piano, sedangkan Amy paling aktif dan memiliki jiwa seni tinggi serta bercita-cita menjadi pelukis terkenal.

    Karena saya menulis catatan dari dua film sekaligus, ceritanya jadi sedikit bercampur di kepala saya. Laurie sendiri mempunyai tutor pribadi bernama John Brooke. Ia bukan orang kaya, hanya guru biasa yang hidup sederhana. Ada satu adegan penting yang muncul baik di versi 1994 maupun 2019, yaitu ketika Jo dan Meg diajak Laurie pergi menonton pertunjukan teater. Amy merasa sangat cemburu karena tidak diajak, sementara tiketnya hanya tersedia dua. Di sisi lain, saat berada di gedung teater terlihat hubungan Meg dan John Brooke mulai semakin dekat. Dari cara mereka berbicara dan saling memperhatikan, mulai muncul benih-benih cinta di antara keduanya. Sementara itu Jo yang menyadari suasana itu justru mencoba mengganggu dan menghalangi mereka dengan tingkahnya yang ceroboh dan lucu. Adegan ini terasa ringan, tetapi diam-diam penting karena menjadi awal hubungan Meg dan John berkembang lebih jauh.




    Kembali dalam kemarahannya, Amy masuk ke kamar Jo lalu membakar kumpulan cerita Jo yang selama ini sangat berharga baginya. Saat Jo pulang, pergi kekamarnya kumpulan tulisan ceritanya hilang Menurut saya ini salah satu adegan paling menyakitkan dalam film, karena tulisan bagi Jo seperti bagian dari hidupnya sendiri.



    Salah satu bagian yang menurut saya cukup penting adalah ketika Meg March memutuskan menikah dengan John Brooke. John hanyalah tutor pribadi Laurie dan bukan pria kaya. Karena itu hubungan mereka kurang disetujui oleh Bibi March yang sangat memikirkan status sosial dan kekayaan. Bibi March berharap Meg bisa menikah dengan pria kaya supaya hidupnya lebih terjamin. Tetapi Meg memilih John karena cinta, bukan karena uang.


    Di versi 1994, adegan pernikahan Meg terasa sangat hangat dan sederhana. Suasana rumahnya kecil tetapi nyaman, dan hubungan Meg dengan John terasa lembut. Film ini lebih banyak menunjukkan sisi romantis dan kekeluargaan mereka. Sedangkan di versi 2019, kehidupan Meg setelah menikah terasa lebih realistis. Ada rasa lelah, ada kesulitan ekonomi, bahkan Meg sempat sedih karena tidak bisa membeli barang mahal seperti perempuan lain. Menurut saya versi 2019 lebih menunjukkan bahwa menikah karena cinta tetap tidak mudah dijalani.



    Setelah itu cerita kembali berpindah ke kehidupan Jo di New York. Di sana Jo bertemu dengan Friedrich Bhaer, seorang profesor asal Jerman yang cukup dekat dengannya. Friedrich sering mengkritik tulisan Jo karena menurutnya cerita-cerita Jo terlalu mengejar sensasi dan kurang memiliki makna mendalam. Jo terlihat marah dan tersinggung karena merasa hasil kerjanya diremehkan. Tetapi dari situ saya merasa Jo mulai belajar bahwa menulis bukan hanya soal menghasilkan uang, tetapi juga soal kejujuran perasaan dan isi hati.



    Ada juga adegan lucu ketika Jo sedang berbincang dengan Friedrich di dekat perapian, lalu roknya tanpa sengaja terbakar api. Suasana yang tadinya serius langsung berubah kacau tetapi hangat. Saya suka sekali adegan kecil seperti ini karena hubungan mereka terasa natural dan manusiawi.



    Cerita kemudian berpindah lagi ke Amy yang sedang berada di Eropa bersama bibinya. Di sana Amy kembali bertemu Laurie dalam sebuah pesta. Laurie terlihat hidup tanpa arah, mabuk-mabukan, dan dikelilingi banyak perempuan. Amy sangat kesal melihat Laurie menyia-nyiakan hidupnya. Namun di sisi lain Amy sendiri juga realistis. Ia sadar bahwa perempuan pada masa itu sulit hidup mandiri tanpa uang atau pernikahan yang baik. Karena itu Amy sempat berpikir untuk menikahi pria kaya demi masa depannya. Percakapan Amy dan Laurie di bagian ini menurut saya sangat menarik karena membahas cinta, status sosial, dan kenyataan hidup perempuan pada zaman itu.



    Film juga memperlihatkan kehidupan Meg setelah menikah dengan John Brooke. Mereka hidup sederhana di rumah kecil dengan kondisi ekonomi yang tidak mudah. Walaupun begitu, Meg terlihat tetap bahagia karena hidup bersama orang yang ia cintai.



    Sementara Beth lebih sering diperlihatkan bermain piano sendirian di rumah, dengan suasana yang tenang tetapi juga menyedihkan. Beth memang karakter yang paling lembut dan diam di antara saudara-saudaranya. Menurut saya Beth seperti hati dari keluarga March. Ia jarang menjadi pusat perhatian, tetapi kehadirannya membuat rumah itu terasa hangat.

    Beth sempat jatuh sakit setelah membantu keluarga Hummel yang miskin dan sedang terkena penyakit. Dari situ kondisi tubuhnya mulai melemah. Di versi 1994, adegan sakitnya Beth terasa sangat hangat tetapi juga menyakitkan, seperti keluarga March perlahan sadar mereka akan kehilangan sosok paling lembut di rumah itu. Sedangkan di versi 2019, karena alurnya maju mundur, kadang Beth terlihat sehat di satu adegan lalu tiba-tiba sakit di adegan lain. Itu juga yang membuat saya awalnya cukup bingung mengikuti alur filmnya.




    Dan iya, pada akhirnya Beth memang meninggal. Menurut saya kematian Beth adalah salah satu bagian paling menyedihkan dalam cerita ini, terutama bagi Jo. Karena Jo dan Beth punya hubungan yang sangat dekat. Setelah Beth meninggal, Jo terlihat benar-benar kehilangan arah dan merasa rumah mereka tidak lagi sama seperti dulu. Dari situ juga Jo mulai menulis lebih jujur dari hatinya sendiri, bukan hanya demi uang.


    Salah satu adegan yang paling saya suka adalah ketika Jo dan Laurie menghadiri pesta dansa. Karena sepatu Meg terlalu sempit dan membuat kakinya sakit, Jo dan Laurie akhirnya keluar dari pesta lebih awal. Setelah itu mereka menari dengan bebas dan asal-asalan di beranda rumah Laurie. Adegan itu terasa hangat sekali karena Jo bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus berpura-pura anggun seperti perempuan lain pada masa itu.


Lalu ada adegan yang menurut saya paling emosional dalam hubungan Jo dan Laurie. Saat pernikahan Meg berlangsung, Laurie membawa Jo pergi ke sebuah bukit yang sepi. Di sana Laurie akhirnya mengungkapkan perasaannya kepada Jo. Laurie mengatakan bahwa ia mencintai Jo apa adanya dan ingin selalu bersama Jo.


    Adegan itu terasa sedih karena sejak awal mereka memang sangat dekat. Mereka tumbuh bersama, bercanda bersama, menari liar bersama, dan saling mengerti tanpa perlu banyak bicara. Tetapi Jo menolak perasaan Laurie. Bukan karena ia tidak sayang kepada Laurie, justru karena Jo terlalu menyayanginya sebagai sahabat. Jo merasa jika mereka menikah, hubungan mereka akan berubah dan tidak lagi bebas seperti dulu. Jo juga merasa dirinya tidak cocok hidup sebagai istri biasa. Ia lebih ingin hidup bebas, menulis, dan menentukan jalan hidupnya sendiri.


    Di versi 1994, adegan penolakan itu terasa lebih lembut dan tenang. Laurie terlihat sedih tetapi masih bisa menerima perkataan Jo secara perlahan. Sedangkan di versi 2019, adegannya terasa lebih emosional dan menyakitkan. Laurie terlihat benar-benar kecewa, sementara Jo sendiri juga menangis karena sadar ia menyakiti orang yang paling dekat dengannya. Menurut saya versi 2019 membuat adegan itu terasa lebih nyata, seperti dua sahabat yang sama-sama kehilangan sesuatu.


    Yang menarik, pada akhirnya Laurie justru menikah dengan Amy March. Awalnya saya merasa hubungan itu cukup mengejutkan, karena sepanjang cerita Laurie lebih dekat dengan Jo. Tetapi semakin dipikir, Amy sebenarnya lebih cocok dengan Laurie ketika mereka sudah dewasa. Amy berani menegur Laurie saat hidupnya mulai berantakan di Eropa, sementara Laurie merasa lebih tenang ketika bersama Amy. Hubungan mereka terasa lebih dewasa dibanding hubungan Laurie dan Jo yang lebih seperti sahabat masa kecil.



    Tidak lupa juga dengan adegan  versi 2019, yaitu ketika  Jo mengejar Friedrich Bhaer  di tengah hujan. Setelah sebelumnya Jo terlihat selalu ingin hidup mandiri dan menolak bergantung kepada siapa pun, di adegan ini Jo akhirnya memperlihatkan sisi rapuhnya. Suasana hujan, cahaya lampu malam, dan cara mereka saling memandang membuat adegan itu terasa sangat emosional tetapi juga hangat.

    Hubungan Jo dan Friedrich terasa berbeda dibanding Jo dan Laurie. Jika Laurie adalah teman masa kecil yang tumbuh bersamanya, maka Friedrich hadir ketika Jo mulai dewasa dan mulai memahami dirinya sendiri. Friedrich juga mendorong Jo untuk menulis lebih jujur dari hati, bukan sekadar menulis cerita sensasional demi uang. Karena itu hubungan mereka terasa lebih tenang dan dewasa.

    Di situlah menariknya Little Women. Film ini tidak selalu memberikan cinta seperti yang penonton harapkan. Kadang orang yang paling dekat dengan kita belum tentu menjadi pasangan hidup kita. Dan kadang cinta juga berarti menerima penolakan, lalu tetap tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

    Semakin saya membandingkan versi 1994 dan 2019, saya merasa keduanya memiliki kelebihan masing-masing. Versi 1994 terasa seperti dongeng keluarga yang hangat dan nyaman, sedangkan versi 2019 terasa lebih realistis, emosional, dan modern dalam membahas perempuan, cinta, dan pilihan hidup. Karena itu saya merasa menonton dua versi film ini memberikan pengalaman yang berbeda walaupun menceritakan kisah yang sama. Dan setelah menonton dua-duanya, saya jadi semakin ingin membaca novel aslinya.

    Mungkin itu alasan kenapa Little Women masih terasa relevan sampai sekarang. Ceritanya sederhana, tetapi perasaan yang ditinggalkan setelah menontonnya terasa lama. Tentang keluarga, kehilangan, mimpi, dan bagaimana setiap orang akhirnya memilih jalan hidupnya masing-masing.

                                                                                                              Takamatsu, Jepang 14-05-2026


LESBUMI KETIKA KAUM MUSLIM BERKESENIAN

Senin, 16 Juli 2018 | komentar


Yusuf Kurniawan
Mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Andalas

Ketika kita berbicara tentang seni, maka yang terlebih dahulu dibicarakan adalah keindahan. Sudah menjadi fitrahnya manusia menyukai keindahan. Seorang ibu akan lebih berbahagia jikalau ia dikaruniai anak yang indah fisiknya, baik rupa ataupun jasmaninya. Seseorang akan lebih memilih rumah yang indah serta mengenakan pakaian-pakaian yang indah ketimbang semua itu dalam kondisi biasa-biasa saja ataupun  buruk. Demikian halnya dengan nyanyian, puisi, syair, sajak, yang juga melambangkan keindahan, maka manusia pun akan menyukainya.[1]

Seni adalah anugerah terindah yang diberi oleh Allah, seni berasal dari hasil budi daya atau cipta rasa dari manusia untuk memenuhi kebutuhan hasrat hidupnya.  Seni menunjukan hasil ekspresi Manusia diwujudkan dalam bentuk sebuah karya yang kreatif berupa Ekstetik (harmonisasi) dan Artistik (daya tarik).  Allah itu indah dan menyukai keindahan. Inilah prinsip yang didoktrinkan Nabi saw., kepada para sahabatnya. Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda
“Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya terbetik sifat sombong seberat atom.” Ada orang berkata,” Sesungguhnya seseorang senang berpakaian bagus dan bersandal bagus.” Nabi bersabda,” Sesungguhnya Allah Maha Indah, menyukai keindahan. Sedangkan sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim).[2]
Pada awal Kemerdekaan Republik Indonesia, Seni yang berkemang adalah seni rupa. Kebanyakan merupakan poster-poster politik dan propaganda perjuangan. Salah satu poster yang cukup populer saat itu berbunyi: “Boeng Ayo Boeng”, merupakan karya kolaborasi Affandi dan Chairil Anwar. Bila pada masa pendudukan Jepang para seniman dilanda ketakutan untuk mengekspresikan keinginan merdekanya melalui karya seni mereka karena tentara Jepang sewaktu-waktu akan menciduk mereka, maka di masa ini mereka lebih bebas berekspresi. Pada masa Revolusi fisik memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan antara 1945-1950 seniman-seniman terkemuka dari Jakarta dan Bandung banyak pindah ke Yogyakarta. Pada masa ini walaupun mengalami gejolak sosial dan politik, seniman modern Indonesia mulai menemukan identitas profesinya. Organisasi dan sanggar seni budaya bermunculan di berbagai wilayah di Jawa, seperti: Yogya, Surakarta, Bandung, Jakarta, serta di Sumatera, seperti di Medan dan Bukittinggi. [3]
Tema kehidupan perjuangan dan keinginan mendokumentasikannya melalui karya seni banyak ditemukan pada masa ini. Setelah perjuangan kemerdekaan tercapai dan revolusi fisik yang menyertainya telah terlampaui. Kondisi sosial politik rakyat Indonesia kembali bergejolak terutama untuk mencari stabilitas dan untuk memenuhi segala kebutuhan yang porak-poranda akibat revolusi. Pemerintahan masih mengalami perubahan-perubahan, dan rakyat kadang terabaikan. Berdasarkan kebijakan politik saat itu muncullah banyak partai. Salah satunya adalah Partai Komunis Indonesia, dengan Joebaar Ajoeb sebagai Sekretaris Umum nya. Sebagai salah satu partai politik yang cukup kuat pada masa itu, PKI memiliki beberapa organisasi yang berafiliasi di bawahnya. Untuk bidang kebudayaan berdirilah Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pada 17 Agustur 1950. Lekra berkembang sangat pesat dan menjadi organisasi yang populer di antara organisasi-organisasi budaya lain yang berafiliasi pada organisasi politik pada masa itu, seperti : Lembaga Kebudayaan Nasional (afiliasi Partai Nasional Indonesia) Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (afiliasi Partai Nadhatul Ulama) Lembaga Kebudayaan Kristen Indonesia (afiliasi Partai Kristen Indonesia).[4]
“Lesbumi” (Lembaga seniman budayawan muslimin Indonesia) merupakan lembaga seni-budaya yang di usung oleh NU pada tahun 1950-1960-an. Di lembaga itu para seniman dan budayawan muslim NU berkumpul. Lembaga ini sempat stagnan hingga pasca pemerintahan Soeharto. Lesbumi kembali dihadirkan melalui Muktamar NU ke-30 (1999) dan ke-31 (2004) . Apa yang dilakukan NU merupakan bagian dari semangat kembali ke Khittah 1926 yang menggelindingkan trilogi transformasi: sosio-politik, sosio-kultural dan sosio-ekonomi. Fakta historis ini membedakan kehadiran Lesbumi selama hampir satu dasawarsa terakhir dengan kelahiran awalnya pada dekade 1960-an.[5]
Sejalan dengan penegasan itu, Ketua Lesbumi Al-Zastrow mengatakan, keinginan menghadirkan kembali Lesbumi antara lain juga dilandasi oleh keprihatinan akan fenomena kering dan sepinya agama dari sentuhan kebudayaan sehingga yang tampak adalah penampilan agama yang sangar dan beku, tidak memiliki kelenturan-kelenturan. Agama tidak lagi merupakan sesuatu yang hidup dan bahkan tidak lagi memberi kenyamanan bagi pemeluknya.[6]
Agama dewasa ini, demikian menurut Al-Zastrow, terjebak dalam ritualisme, simbolisme dan formalisme. Dimensi-dimensi kebudayaan dan kesenian sebagai pilar dari sikap kemanusiaan yang sebetulnya tak dapat dipisahkan dari agama itu hilang. Agama berjalan mengisi kemanusiaan tanpa ada sentuhan-sentuhan budaya sehingga terkesan kering, keras, dan kaku.[7]
Atas keprihatinan inilah, maka Lesbumi akan membentuk dewan kebudayaan yang terdiri dari para budayawan, pemikir, intelektual yang memiliki perhatian terhadap masalah kebudayaan Indonesia dan juga seniman dalam segala bentuknya. Lesbumi ingin memberikan peran atau memfasilitasi kesenian yang sifatnya menumbuhkan kreatifitas masyarakat. Program utamanya adalah, melakukan dokumentasi terhadap kesenian masyarakat, bahkan yang langka dan hampir hilang.[8]
NU – dengan mempertimbangkan historisitas Lesbumi – sudah pasti memiliki basis massa pelaku yang terdiri dari seniman dan budayawan. Oleh sebab itu, NU seharusnya mempunyai perhatian khusus pada dunia seni dan budaya serta menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi oleh para seniman dan budayawan tersebut.
`Penegasan ini berarti menempatkan warga NU untuk bergumul dengan keprihatinan-keprihatinan yang dihadapi oleh seniman dan budayawan sekaligus mencari jawab atasnya. Konsekuensinya adalah NU harus memperkaya bahtsul masail kebudayaan dan kesenian yang dapat memberikan jawaban atas persoalan-persoalan itu.
Kehadiran Lesbumi, dengan demikian, dapat memberikan alternatif baru dalam berkesenian dengan memberikan tempat bagi unsur keagamaan (Islam) setara dengan kebudayaan melalui sebuah ‘kontestasi’ seni budaya ketimbang sebuah ‘pertarungan politik’. Konteks sejarah ini yang membedakan wajah baru Lesbumi dengan masa awal kelahirannya pada dekade 1960-an. Sikap ‘tengah-tengah’ (moderat) tampaknya coba ditempuh oleh Lesbumi senada dengan garis ideologi Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) yang menjadi landasan sosial-keagamaan NU, organisasi induknya.

Kepustakaan
Choirotun Chisan. Lesbumi Strategi Politik Kebudayaan. Lkis. Yogyakarta : 2008
https://id.wikipedia.org/wiki/Lesbumi



[1] Yahyaayyash,  https://yahyaayyash.wordpress.com/2008/05/31/seni-dalam-islam/  diakses tanggal 20 April 2018, jam 00.30
[2] Ibid
[3] https://www.facebook.com/pg/anaksalemba49/photos/?tab=album&album_id=431278080345899
[4] Ibid
[5] https://id.wikipedia.org/wiki/Lesbumi
[6] Ibid
[7] Ibid
[8] Ibid

Andalas Film Exhibiton 2017

Minggu, 19 November 2017 | komentar

Andalas Film Exhibiton 2017 adalah wadah apresiasi yang di bangun oleh salah satu UKMF di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Padang yang akan di adakan pada tangal 18 November dan berakhir pada 3 Desember. Penggagas acara ini adalah UKMF Relair CinemaFIB yang masih seumur jagung ini baru saja berumur 2 tahun tetapi telah melakukan gerakan yang masif. Bapak Hasanudin Mengatakan pada waktu Konfersi Pers di ruang sidang dekatnat lantai 2 FIB Universitas Andalas "UKMF Relair Cinema ini meupakan UKM teraktif dalam melakukan kegiatan jika dibandingkan dengan UKMF yang lain di FIB pada saat ini". Dimana kegiatan ini merupakan acara Film Festival terbesar di Sumatera pada tingkat Nasional dan perdana di adakan kali di Sumatera khususnya Sumatera Barat, di Universitas Andalas. Selain Festival Film yang akan diadakan pada tanggal 20-22 november dengan  Menonton 19 official selection yg dipilih dari 117 film yang di submit oleh film maker dari 35 kota di indonesia dilanjutkan dengan Simposium, Terlebihi dahulu dimulai dengan Kelas Film pada tanggal 18-19 november yang diikuti oleh pelajar se-sumatera barat dan juga ada dua orang mahasiswa FIB yang ikut berasal dari jurusan Sastra Inggris dan Sastra Indonesia. Dilanjutkan dengan AFE goes to kampus pemutaran film di seluruh kampus di kota padang  pada tanggal 23-30 november kampus yang berpastisipasi ada UNP? Universitas Dharma Andalas , Universitas Bung Hatta, STIKIP PGRI Sumbar dan Penutup Festival Film di laksanakan pada tanggal 3 Desmber 2017 dengan mengadakan Talkshow Spesial bersama Riri Riza sutradra ternama di Indonesia, Arief Malimudo sutradara muda minangkabau, dan S Metron Madison direktur utama Ranah PAC dan juga seorang penulisan Skenario.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Manusia Berpikir - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger