Tampilkan postingan dengan label budya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budya. Tampilkan semua postingan

Pendidikan Anak Usia Dini Melalu Film Anak dan Keluarga

Sabtu, 11 Agustus 2018 | komentar


Pendidikan Anak Usia Dini Melalu Film Anak dan Keluarga

Yusuf Kurniawan


Source : https://www.intofilm.org/resources/84

Virgina Satir dalam bukunya The New Peoplemaking menyatakan, Orangtua mengajar di sekolah paling berat di dunia---sekolah untuk orang. Anda adalah dewan pendidik kepala sekolah, penjaga dan pembersih gedung sekaligus... dan tidak ada ketentuan umum dalam kurikulumnya. Anda bertugas  atau setidak-setidaknya siap dipanggil. 24 jam sehari. 365 hari setahun. Selama  sedikitnya 18 tahun untuk setiap anak yang Anda punyai.[1]

Dilihat dari pernyataan Virgina Satir peran orang tua benar-benar sangat penting, dimana Anda harus siap didalam setiap waktu dan kondisi apapun. Begitu berharga momen bersama anak dan orangtua. Sebagai orangtua adalah penentunya, mau jadi apa dia adalah berdasarkan rasa kepedulian dan keterbilatan orangtua dalam perjalanan waktu perkembangan anak-anak di usia yang sangat dini hingga dewasa disaat umur 18 tahun.

Pendidikan adalah hal yang terpenting dalam membangun jiwa dan fisik anak. pendidikan yang berorientasi rasa kasih sayang dan kedekatan emosional yang dibangun melalui hubungan darah dan batin, yaitu orang tua yang telah menjadi pertemuan pertama dengan anak yang terlahir. Serta kemudian pendidikan pertama adalah keluarga tersenidiri menjadi yang utama dalam kehidupan sang anak.\

Keluarga yang menjadi inspirasi pendidikan seperti yang dilansir dari salah satu artikel SAHABAT KELUARGA - Azzam Habibullah namanya. Usianya masih teramat muda, Oktober 2018 nanti usianya baru menginjak 17 tahun. Namun di usia yang masih tergolong ‘anak kemarin sore’, anak sulung dari dari pasangan Henry Ridho dan Laila Sari itu telah melanglangbuana ke negerinya Donald Trump pada tahun 2017 lalu. Melalui proposalnya yang berjudul ‘Equity dan Population Adjustment’, Azzam menjadi salah seorang pemuda dari empat pemuda seluruh Indonesia yang diundang oleh Caretakers of the Environment International (CEI), sebuah organisasi nirlaba yang fokus pada isu-isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.  Azzam diundang untuk mengikuti konferensi tentang pembangunan berkelanjutan, pendidikan dan lingkungan hidup. Padahal, Azzam bukanlah siswa dari sekolah di luar negeri, bukan juga siswa dari sekolah unggulan bertaraf internasional. Bahkan, selama menempuh pendidikan sejak kecil hingga remaja sekarang ini, Azzam hanya mengenyam sekolah formal saat menginjak jenjang taman kanak-kanak, yakni di TK Aisyiyah. Selanjutnya, Azzam menjalani proses pembelajaran di sekolah alam, yakni Sekolah Alam Medan Raya (SAMERA) yang didirikan orang tuanya. Di rumah, Azzam juga dididik langsung oleh kedua orangtuanya serta pembelajaran melalui panduan video tutorial. [2]

Orang tua akan melakukan apapun untuk anaknya termasuk pendidikan untuk masa depan anak nya melalui pendidikan yang kreatif demi mendapatkan pendidikan yang pas untuk anak-anak. Seperti Azzam yang mendapatkan pendidikan dari Sekolah Alam Medan Raya yang didirikan orang tua plus tambahan lebih mendalam saat dirumah dengan panduan video tutorial. Pendidikan menggunakan media dapat dikatakan sangat mumpuni untuk mengembangkan minat dan kreativitas anak, apalagi dengan zaman yang teknologi serba maju, salah satu media film yang banyak menampilkan konten pendidikan untuk anak-anak demi mencapai pembelajaran yang mutakhir dari konten film tersebut.


source :  https://www.artlink.co.za/news_article.htm?contentID=25721


Pada alam keluarga, orang tua (Ayah dan Ibu) terutama ayah kepala keluarga dengan bantuan anggotanya mempersiapkan segala sesuatu yang yang dibutuhkan sebuah keluarga, dimana bimbingan, ajakan, pemberian contoh, kadang sanksi yang khas dalam sebuah keluarga, baik dalam wujud pekerjaan kerumah-tanggan maupun kemasyarakatan lainnya, yang dipikul atas seluruh anggota komunitas keluarga, atau setara individual, merupakan cara-cara yang biasa terjadi pada interaksi pendidikan  dalam keluarga. Ki Hajar Dewantara (1961) menyatakan keluarga adalah kumpulan individu yang memiliki rasa  pengabdian tanpa pamrih demi kepentingan seluruh individu yang bernaung didalamnya.[3]

Keluarga juga wahanana (tempat) untuk mendidik anak untuk pandai, berpengalaman, berpengetahuan, berperilaku dengan baik. Bilamana kedua orang tua dalam keluarga, memahami dengan baik kewajiban dan tanggung jawab sebagai orang tua. Orang tua (Ayah dan Ibu) tidak hanya sekedar membangun silaturrahmi dan melakukan berbagai tujuan berkeluarga  seperti tujuan reproduksi, meneruskan keturunan, menjalin kasih sayang dan lain sebagainya, yang lebih terpenting bagi dari tugas keluarga adalah menciptakan suasana dalam keluarga proses pendidikan yang berkelanjutan (continius progress) guna melahirkan generasi penerus (keturuanan) yang cerdas dan berakhlak (berbudi pekerti yang baik), baik dimata orang tua, dan masyarakat.[4]

Dalam mendidik anak usia dini dilingkungan keluarga sebagai pendidik pertama dan utama, dapat meggunakan berbagai macam media. Media yang dimaksud sebagai alat yang menjadi perantara dalam menyampaikan  pembelajaran pada anak usia dini. Dalam konteks ini, terdapat banyak media yang bisa digunakan untuk pembelajaran anak usia dini. Prinsipnya, media  yang akan digunakan tersebut dapat memberikan rangsangan semangat atau memotivasi anak usia dini untuk dapat belajar dengan mudah dan menyenangkan sehingga mereka tidak merasa bosan dalam mengikuti proses pembelajaran. Ada macam-macam media pembelajaran untuk anak usia dini dapat digolongkan menjadi tiga yakni audio, visual, atau gabungan keduanya media audio visual dikenal juga dengan media film.[5]

Media audio adalah sebuah media pembelajaran  yang mengandung pesan-pesan dalam bentuk auditif (pendengaran, serta hanya menghasilkan suara saja seperti radio dan kaset rekaman. Biasanya berupa cerita yang didongengkan atau lagu-lagu. Sedangkan media visual adalah media yang mengadalkan indra penglihatan. Bentuk media visual ialah media grafis dan media proyeksi. Media grafis ialah media visual yang mengkomunikasikan antara fakta dan data yang berupa gagasan atau kata-kata verbal dengan gambar seperti poster, kartun dan komik.[6]

Terakhir media audio visual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar, kemudia di gabungan menjadi gambar bergerak atau film. Film terdiri dari dua jenis yaitu dokumenter dan film cerita. Film cerita terdiri dari berbagai genre. Terjadi revolusi dari film Indonesia yang hanya menampilkan film horor atau komedi receh. Sebuah film bukan hanya dirangkai untuk para penonton remaja. Anak-anakpun juga harus dijadikan sasaran untuk menikmati sebuah kehidupan lain yang dapat dilihat dilayar lebar.

Film-film bergenre anak tersebut dapat berbagai cerita tentang pengajaran anak dengan kekeluargaan. Dilansir dari hipwee.com, sebut saja Petualangan Sherina (2000) film yang booming pada tahun 2000 bercerita tentang anak perempuan yang bernama Sherina yang harus menerima keputusan untuk pindah dari Jakarta ke Bandung untuk kepentingan pekerjaan ayahnya, dimana film bertema musikal ini mengajarkan seorang anak sifat yang sabar dan penurut, dan harus mampu berdapatasi dengan lingkungan barunya. Film yang bertema sama dengan Petualangan Sherina mungkin adalah Joshua Oh Jushua (2001) mengusung tema musikal dipenuhi dengan adegan menyanyi dan menari, film ini mencertikan Jojo yang harus mengamen untuk kehidupan  sehari-harinya, walau hidup susah, Jojo dan temanya Jejen, tetap senang dan bersykur akan kehidupanya.  Dan kemudian film yang berjudul Untuk Rena (2005) yang mengkisahkan seorang anak bernama Rena yang telah lama hidup di panti asuhan, yang tidak rela jika adik-adiknya diasuh oleh orangtua asuh, lewat film ini pula. Setidaknya kita tahu bagaimana rasa saling menyanyangi sesama saudara. Ada  juga film  Garuda Di Dadaku (2007) yang berkisah perjuangan anak laki-laki yang bernama Bayu berjuang untuk mencapai cita-cita sebagai pemai bola di timnas U-13, tapi sayangnya hobi Bayu tidak disukai kakeknya karena tidak menjajikan masa depan yan cerah, tetapi Bayu tetap semangat hingga diapun mendapat restu. Film ini mengajarkan sikap bijaksana dan dukungan keluarga sangat dibutukan seorang anak dalam meraih impianya. Tidakhanya menceritakan kisah anak-anak di kota juga ada film anak yang menceritakan kehidupan anak-anak di desa dan daerah pedalaman salah satunya Denias, Senandung di Atas Awan (2008), kita bisa melihat Denias seoarang anak suku pedalaman di Papua yang ingin mendapatkan  pendidikan yang layak untuk dirinya. Dia harus berjalan puluhan kilo untuk bersekolah. Seterusnya film Laskar Pelangi (2009) yang berkisah seorang bocah bernama Ikal dkk yang bersekolah di SD Muhammadiyah desa Gantung di Belitung. Walau sekolah mereka sangat sederhana, tetapi tak mematahkan semangat Ikal dkk untuk terus mengenal dunia lewat pendidikan.

Memasuki tahun 2018, terdapat beberapa film bergenre keluarga dan anak kembali di produksi antaranya Kulari ke Pantai, Koki Koki Cilik dan Keluarga Cemara. Dua diantaranya sudah tayang Juli kemaren, dan Keluarga Cemara menyusul yang akan tayang di akhir 2018 nanti.[7] 

Kulari ke Pantai bercerita tentang traveling jalan darat dari Jakarta ke Banyuwangi yang di lakoni oleh dua anak perempuan beda karakter Sam dan Happy, film ini menampilkan hubungan antar saudara sepupu, dan perang orang tua dalam mendidik anak milineal. Sedangkan Koki Koki Cilik (2018) mengisahkan  perjuangan Bima yang berasal dari keluarga sederhana untuk mengikuting cooking camp (kompetisi memasak) agar dapat meraih gelar koki cilik, nilai positif  seperti kesederhanaan, kejujuran, dan saling tolong menolong juga cukup menonjol dalam film ini.

Dari beragam judul film yang disebut diatas kebanyakan di Sutradarai oleh Riri Riza dan Ifa Ifansyah kecuali Denias, Senandung diatas Awan disutradai oleh John Rantau dan Johsua oh.Joshua disturadai oleh Edward Sirait. Sebenarnya masih banyak film bertema anak dan keluarga yang di produksi di Indonesia, film-film diatas menjadi perwakilan dalam artikel ini, semoga Film seperti dapat terus di produksi tentu dengan kualitas cerita dan sinematografi yang lebih baik lagi, sehingga dapat mengundang banyak penonton terutama untuk anak-anak yang berguna sebagai usaha pendidikan terhadap anak Indonesia melalui media film.

#sahabatkeluarga

Daftar Kepustakaan

Nancy Samalin, 1,2,3 Sayang Semuanya Panduan Praktis membesarkan anak tanpa mebeda-bedakan, Bandung : Kaifa, 2003.

M. Syahran Jailani, Teori Pendidikan Keluarga dan Tanggung Jawab Dalam Pendidikan Anak Usia Dini. Nadwa Jurnal Pendidikan Islam Vol. 8 No.2 (2014).









                                



[1] Nancy Samalin, 1,2,3 Sayang Semuanya Panduan Praktis membesarkan anak tanpa mebeda-bedakan, Bandung : Kaifa, 2003, hal 21
[3] M. Syahran Jailani, Teori Pendidikan Keluarga dan Tanggung Jawab Dalam Pendidikan Anak Usia Dini. Nadwa Jurnal Pendidikan Islam Vol. 8 No.2 (2014), hal 91
[4] Ibid
[6] Ibid


LESBUMI KETIKA KAUM MUSLIM BERKESENIAN

Senin, 16 Juli 2018 | komentar


Yusuf Kurniawan
Mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Andalas

Ketika kita berbicara tentang seni, maka yang terlebih dahulu dibicarakan adalah keindahan. Sudah menjadi fitrahnya manusia menyukai keindahan. Seorang ibu akan lebih berbahagia jikalau ia dikaruniai anak yang indah fisiknya, baik rupa ataupun jasmaninya. Seseorang akan lebih memilih rumah yang indah serta mengenakan pakaian-pakaian yang indah ketimbang semua itu dalam kondisi biasa-biasa saja ataupun  buruk. Demikian halnya dengan nyanyian, puisi, syair, sajak, yang juga melambangkan keindahan, maka manusia pun akan menyukainya.[1]

Seni adalah anugerah terindah yang diberi oleh Allah, seni berasal dari hasil budi daya atau cipta rasa dari manusia untuk memenuhi kebutuhan hasrat hidupnya.  Seni menunjukan hasil ekspresi Manusia diwujudkan dalam bentuk sebuah karya yang kreatif berupa Ekstetik (harmonisasi) dan Artistik (daya tarik).  Allah itu indah dan menyukai keindahan. Inilah prinsip yang didoktrinkan Nabi saw., kepada para sahabatnya. Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda
“Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya terbetik sifat sombong seberat atom.” Ada orang berkata,” Sesungguhnya seseorang senang berpakaian bagus dan bersandal bagus.” Nabi bersabda,” Sesungguhnya Allah Maha Indah, menyukai keindahan. Sedangkan sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim).[2]
Pada awal Kemerdekaan Republik Indonesia, Seni yang berkemang adalah seni rupa. Kebanyakan merupakan poster-poster politik dan propaganda perjuangan. Salah satu poster yang cukup populer saat itu berbunyi: “Boeng Ayo Boeng”, merupakan karya kolaborasi Affandi dan Chairil Anwar. Bila pada masa pendudukan Jepang para seniman dilanda ketakutan untuk mengekspresikan keinginan merdekanya melalui karya seni mereka karena tentara Jepang sewaktu-waktu akan menciduk mereka, maka di masa ini mereka lebih bebas berekspresi. Pada masa Revolusi fisik memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan antara 1945-1950 seniman-seniman terkemuka dari Jakarta dan Bandung banyak pindah ke Yogyakarta. Pada masa ini walaupun mengalami gejolak sosial dan politik, seniman modern Indonesia mulai menemukan identitas profesinya. Organisasi dan sanggar seni budaya bermunculan di berbagai wilayah di Jawa, seperti: Yogya, Surakarta, Bandung, Jakarta, serta di Sumatera, seperti di Medan dan Bukittinggi. [3]
Tema kehidupan perjuangan dan keinginan mendokumentasikannya melalui karya seni banyak ditemukan pada masa ini. Setelah perjuangan kemerdekaan tercapai dan revolusi fisik yang menyertainya telah terlampaui. Kondisi sosial politik rakyat Indonesia kembali bergejolak terutama untuk mencari stabilitas dan untuk memenuhi segala kebutuhan yang porak-poranda akibat revolusi. Pemerintahan masih mengalami perubahan-perubahan, dan rakyat kadang terabaikan. Berdasarkan kebijakan politik saat itu muncullah banyak partai. Salah satunya adalah Partai Komunis Indonesia, dengan Joebaar Ajoeb sebagai Sekretaris Umum nya. Sebagai salah satu partai politik yang cukup kuat pada masa itu, PKI memiliki beberapa organisasi yang berafiliasi di bawahnya. Untuk bidang kebudayaan berdirilah Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pada 17 Agustur 1950. Lekra berkembang sangat pesat dan menjadi organisasi yang populer di antara organisasi-organisasi budaya lain yang berafiliasi pada organisasi politik pada masa itu, seperti : Lembaga Kebudayaan Nasional (afiliasi Partai Nasional Indonesia) Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (afiliasi Partai Nadhatul Ulama) Lembaga Kebudayaan Kristen Indonesia (afiliasi Partai Kristen Indonesia).[4]
“Lesbumi” (Lembaga seniman budayawan muslimin Indonesia) merupakan lembaga seni-budaya yang di usung oleh NU pada tahun 1950-1960-an. Di lembaga itu para seniman dan budayawan muslim NU berkumpul. Lembaga ini sempat stagnan hingga pasca pemerintahan Soeharto. Lesbumi kembali dihadirkan melalui Muktamar NU ke-30 (1999) dan ke-31 (2004) . Apa yang dilakukan NU merupakan bagian dari semangat kembali ke Khittah 1926 yang menggelindingkan trilogi transformasi: sosio-politik, sosio-kultural dan sosio-ekonomi. Fakta historis ini membedakan kehadiran Lesbumi selama hampir satu dasawarsa terakhir dengan kelahiran awalnya pada dekade 1960-an.[5]
Sejalan dengan penegasan itu, Ketua Lesbumi Al-Zastrow mengatakan, keinginan menghadirkan kembali Lesbumi antara lain juga dilandasi oleh keprihatinan akan fenomena kering dan sepinya agama dari sentuhan kebudayaan sehingga yang tampak adalah penampilan agama yang sangar dan beku, tidak memiliki kelenturan-kelenturan. Agama tidak lagi merupakan sesuatu yang hidup dan bahkan tidak lagi memberi kenyamanan bagi pemeluknya.[6]
Agama dewasa ini, demikian menurut Al-Zastrow, terjebak dalam ritualisme, simbolisme dan formalisme. Dimensi-dimensi kebudayaan dan kesenian sebagai pilar dari sikap kemanusiaan yang sebetulnya tak dapat dipisahkan dari agama itu hilang. Agama berjalan mengisi kemanusiaan tanpa ada sentuhan-sentuhan budaya sehingga terkesan kering, keras, dan kaku.[7]
Atas keprihatinan inilah, maka Lesbumi akan membentuk dewan kebudayaan yang terdiri dari para budayawan, pemikir, intelektual yang memiliki perhatian terhadap masalah kebudayaan Indonesia dan juga seniman dalam segala bentuknya. Lesbumi ingin memberikan peran atau memfasilitasi kesenian yang sifatnya menumbuhkan kreatifitas masyarakat. Program utamanya adalah, melakukan dokumentasi terhadap kesenian masyarakat, bahkan yang langka dan hampir hilang.[8]
NU – dengan mempertimbangkan historisitas Lesbumi – sudah pasti memiliki basis massa pelaku yang terdiri dari seniman dan budayawan. Oleh sebab itu, NU seharusnya mempunyai perhatian khusus pada dunia seni dan budaya serta menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi oleh para seniman dan budayawan tersebut.
`Penegasan ini berarti menempatkan warga NU untuk bergumul dengan keprihatinan-keprihatinan yang dihadapi oleh seniman dan budayawan sekaligus mencari jawab atasnya. Konsekuensinya adalah NU harus memperkaya bahtsul masail kebudayaan dan kesenian yang dapat memberikan jawaban atas persoalan-persoalan itu.
Kehadiran Lesbumi, dengan demikian, dapat memberikan alternatif baru dalam berkesenian dengan memberikan tempat bagi unsur keagamaan (Islam) setara dengan kebudayaan melalui sebuah ‘kontestasi’ seni budaya ketimbang sebuah ‘pertarungan politik’. Konteks sejarah ini yang membedakan wajah baru Lesbumi dengan masa awal kelahirannya pada dekade 1960-an. Sikap ‘tengah-tengah’ (moderat) tampaknya coba ditempuh oleh Lesbumi senada dengan garis ideologi Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) yang menjadi landasan sosial-keagamaan NU, organisasi induknya.

Kepustakaan
Choirotun Chisan. Lesbumi Strategi Politik Kebudayaan. Lkis. Yogyakarta : 2008
https://id.wikipedia.org/wiki/Lesbumi



[1] Yahyaayyash,  https://yahyaayyash.wordpress.com/2008/05/31/seni-dalam-islam/  diakses tanggal 20 April 2018, jam 00.30
[2] Ibid
[3] https://www.facebook.com/pg/anaksalemba49/photos/?tab=album&album_id=431278080345899
[4] Ibid
[5] https://id.wikipedia.org/wiki/Lesbumi
[6] Ibid
[7] Ibid
[8] Ibid

Sejarah Panjang Perjalanan Sosial Politik Film Horor di Indonesia

Sabtu, 30 Desember 2017 | komentar

Sejarah di Indonesia, masih banyak didudukan sekedar bahan nostalgia belaka, hanya penting untuk sekedar pengungkap kenangan manis masa lalu (Misbach Yusan Biran, 1980:3). Melihat sejarah khusus nya sejarah film sangat sedikit sekali di bahas di ranah Republik Indonesia tercinta ini, jika pun ada mungkin hanya sedikit dan juga hanya beberapa dan luput tak terperhatikan. Film sebagai seni yang lahir terakhir, film tumbuh dengan menyerap penemuan-penemuan yang telah maupun tengah terjadi, baik sains, teknologi dan estetika.

Sejarah Film pertama terjadi di Prancis, tepatnya pada 28 Desember 1895, ketika Lumiere bersaudara telah membuat dunia “terkejut”. Mereka telah melakukan pemutaran film pertama kalinya di depan publik, yakni Cafe de Paris. Film ini adalah tentang para lelaki dan wanita pekerja di pabrik Lumiere, kedatangan kereta api di stasiun La Ciotat, bayi yang sedang menangis dan kapal-kapal yang meninggalkan dermaga.

Sedangkan Sejarah Film di Indonesia dimulai dari orang timur yang mulai bikin film di Hindia Belanda oleh Wong Bersaudara (Nelson Wong, Josua Wong, Othniel Wong), The Teng Chun sebagai Peletak dasar dalam menjadikan usaha pembuatan film sebagai industri yng serius. Kemudian Mannus Franken seorang Peranakan Eropa yang memperkenalkan film sebagai karya seni bersama Albert Balink. Sejak awal abad 20 terdengar dari surat kabar bahwa di mulai nya pemutaran film bioskop yang berisi Bintang Betawi, Jum’at 30 November 1900 menyatakan  ”...bahoewa lagi sedikit hari ija nanti kasi liat tontonan amat bagoes jaitoe gambar-gambar idoep dari banyak hal....”. Dalam surat kabar yang sama terbitan selasa 4 Desember 1900, ada iklan yang berbunyi “... besok hari rebo 5 Desember Pertoendjoekan Besar Jang Pertama di dalam satoe roemah di Tanah Abang kebondjae (MANEGE) moelain poekoel TOEDJOE malem...”.

Melihat Sejarah film di dunia yang beragam, film yang terdiri dari berbagai jenis dan genre kemudian Marx Wilshin yang dimuat dari bukunya Sinema dalam Sejarah Film Horor disampaikan bahwa film Horor pertama di dunia adalah Golem (1920) film berdasarkan legenda Yahudi, Golem adalah patung tanah liat yang dihidupkan untuk melindungi kaum Yahudi, sebagai salah satu monster layar lebar pertama, Golem menginspirasikan monster Frankenstein yang kuat namun tak berakal.

Marx Wilshin membagi jenis film Horor menjadi sebelas jenis film horor yaitu : Orang Gila dan Ganjil, Monster dan Mumi, Vampir, Zombie, Film Kelas B, Mutasi, Setan, Hantu, Makhluk aneh, Pembunuh berantai, Film Slasher. Kemudian ada jenis baru yang merupakan perkembangan dari film Horor itu sendiri Menciptakan Ulang Horor merupakan paduan seimbang antara humor dan percikan darah, yaitu film horor komedi meliputi dari film parodi rumah hantu, seperti The Ghost Breakers (1940), hingga bangkitnya kembali film “pelawak bertemu monster” dalam About and Costello Meet Frankenstein (1948).

Beralih ke Sejarah Film Indonesia, Pada 1941, The Teng Chun membuat Tengkorak Hidoep yang mengisahkan petualangan ke pulau angker bernama pulau Mustika, yang menceritakan para tokohnya yang melakukan perjalanannya ke sebuah pulau, dan dihantui. Tengkorak Hidoep banyak disebut-sebut sebagai film horor Indonesia pertama. Dari catatan Tempo, film ini terpengaruh petualangan eksotis ke rimba belantara ala film Tarzan dengan bintangnya yang populer saat itu. Kisah ekspedisi ke pulau Mustika ini akhirnya menemui suku liar yang tetuanya bisa menjelma jadi jelangkung.

Kusuma (2011:202) mengatakan bahwa sejak kelahirannya, sumber penting dari film-film horor Indonesia adalah cerita rakyat dan legenda lokal, yang sejalan dengan usaha melestarikan nilai-nilai tradisional sebagai salah satu elemen penting dari Indentitas Nasional. Pada waktu itu terjadi perdebatan film horor pertama di Indonesia antara film Tengkorak Hidoep (1920) dengan Lisa (1971), karena ada kesalah pahaman sendiri pada definisi Horor. Menurut Nurudin Asyhadie seperti dikutip dalam artikel Darma Ismayanto yang berjudul “Horor bangkit dari Kubur,” Asyhadie mengkategorikan horor Indonesia ke dalam dua kategori : “horor yang berhubungan dengan hantu” dan “horor kepribadian”. Asyahdie lebih memilih Tengkorak Hidoep sebagai film horor pertama Indoneisa, karena film yang dibahas disini, Jelangkung, juga menghadirkan tokoh supranatural. Kedua, mayoritas penonton Indonesia menganggap sebuah film sebgai film horor yang menampilkan tokoh supranatural. Ismayanto (n.d.) beragumen bahwa horor kepribadian seperti film Lisa tidak terlalu menarik penonton karena mereka melihatnya sebagai “film serius”. Sejak produksi pertamanya hingga hari ini genre horor tetap merupakan genre yang populer bagi penonton Indonesia.

Dalam film horor Indonesia, sifat-sifat monster yang mistis dan tidak dapat diprediksi menjadi sumber ketakutan terbesar penonton. Dalam gaya narasi film Horor Orde Baru, monster dan hantu tersebut merupakan bagian dari penciptaan “narasi besar” untuk memunculkan bahaya dari ketidakaturan. Selain ateisme, komunisme adalah monster atau hantu utama yang dikonstruksi oleh rezim Orde Baru. Rezim ini bergantung pada agama dan ideologi bangsa, pancasila, untuk berhadapan dengan “hantu-hantu” tersebut (Picard, 2011:14). Lima Sila yang  diformalkan oleh para pendiri bangsa ini do eksploitasi oleh rezim Orde Baru yang menjadikan Pancasila seperti “polisi pikiran” gaya Orwellian, khususnya, menurut Sopheie Siddique (2002:27), lewat “asumsi implisit” rezim mengenai sila pertama yang “memaskulinkan Tuhan dan.... Soeharto yang dikonstruksi  sebagai figur Bapak yang berkuasaa”.

Kembali pada Konteks film, lewat gaya narasi yang dipaksakan oleh rezim Orde Baru, film-film horor yang diproduksi secara konstan terus  mengingatkan para penontonnya terhadap ketakutan akan kekacuan jika ketidakteraturan terjadi. Gaya narasi film horor Orde Baru secara jelas mengasosiasikan kekuasaan dan hal-hal baik dengan mereka sendiri (rezim yang berkuasa). Kembalinya keteraturan di akhir narasi seakan-akan menguatkan ideologi rezim yang mengedepankan keteraturan. Pada saat yang sama, secara implisit menuntut adanya kepatuhan publik jika mereka ingin hidup dengan aman dan damai. Kejatuhan rezim Orde Baru tidak menjamin kematian ideologinya, seperti dapat dilihat dalam dinamika politik bangsa pasca-Reformasi yang masih memperlihatkan gaya-gaya kepemimpinan yang masih dipengaruhi oleh ideologi rezim Orde Baru. Sebagai konsekuensinya masyarakat masih hidup di bawah bayang-bayang rezim yang sudah jatuh. Dengan memperlakukan sinema horor sebagai alegori terhadap kondisi ini, film-film horor dapat membantu penonton untuk lebih awas terhadap ancaman laten dari rezim yang telah jatuh, seperti yang di contohkan dalam film Jelangkung yang berakhir tragis untuk para tokoh utamanya. Para monster dan hantu hasil konstruksi yang berfungsi sebagai “instrumen pengawas” dari rezim Orde Baru, sekarang mempresentasikan sang rezim sendiri yang masih terus menghantui.(Anton Sutandio, 2016 : 8 – 9).

Lisa yang kata nya film horor pertama Indonesia ini yang ingin menggantikan Tengkorak Hidoep, film ini bercerita tentang Ibu tiri (Rahayu EFfendi) ingin membunuh anak suaminya yang telah meninggal, demi mengangkangi hartanya dan melicinkan hubungannya dengan sopirnya, Harun (Sophan Sophiaan). Mula-mula disuruhnya Budi (Sukarno M. Noor) untuk membunuh sang anak itu, Lisa (Lenny Marlina), dengan bayaran 10 juta. Budi gagal dan lalu dibunuh oleh ibu tiri itu sendiri. Lalu disuruhnya dr. Santo (Wahid Chan) dengan bayaran sama. Oleh Santo yang ternyata baik hati, Lisa hanya dipingsankan dan upahnya digunakan untuk memelihara Lisa dan bayinya, hasil hubungan Lisa dengan Harun. Ibu tiri yang merasa telah bisa menguasai seluruh warisan, malah terteror bayangan Lisa. Ketakutan ini begitu hebat, hingga ketika Lisa kembali ke rumah pun, ketakutan itu tak kunjung hilang, bahkan sang ibu tiri terjun ke jurang. Dilihat dari cerita film ini lebih menggambar masalah keluarga dan psikologis ketimbang dengan horor sebenarnya yang benar-benar menampakan objek horornya seperti setan, hantu dan monster.

Di tahun 1971 tahunnya produksi film Lisa, Misbach Yusan Biran keluar dari dunia film karena dia tidak sanggup dan tidak ingin melihat karena pada waktu ada usaha dari beberapa orang untuk mengembangkan industri film porno di Indonesia, sejak saat itu Misbach Yusan Biran Terpaksa keluar dari dunia Film yang sangat dia cintai.

Dalam hal membingkai zaman, film-film horor juga memiliki pola-pola yang menarik untuk ditelusuri. Di Indonesia, kita bisa melihat dua zaman yang cukup kontras, yakni era Orde Baru dan Reformasi. Perbedaan situasi sosial-politik dua era tersebut ternyata melahirkan film horor yang berbeda. Baik itu pada level kemasan, maupun pada gagasannya. Untuk mempermudah mengidentifikasi perbedaan tersebut, kita bisa mengambil salah satu elemen yang mewakili, yakni latar tempat film berlangsung. Di sini, kita berbicara tentang desa dan kota. Film horor Indonesia tahun 1970 sampai akhir 1980, lekat dengan kisah yang berlatarkan pedesaan (Paramita, 2016). Ratu Ilmu Hitam (1981) dan Bayi Ajaib (1982) adalah contoh film dari rentang waktu tersebut. Mereka memberi gambaran betapa lekatnya masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan dengan hal-hal berbau takhayul. Alhasil, dalam kemunculan konfliknya, kejadian mistis bukan menjadi suatu hal yang terlalu mengejutkan bagi tokoh-tokoh di film. (https://jurnalruang.com/read/1475221425-setan-orde-baru-dan-setan-reformasi di akses tanggal 30 Desmber 2017, 22:00)


Awal 1980, film horor Indonesia mulai marak diproduksi, dengan karakter utama antara lain Ratu Laut Selatan Nyi Roro Kidul, Sundel Bolong, hingga Ratu Ular yang disebut-sebut sebagai anak Ratu Laut Selatan. Setan perempuan Indonesia tersebut kerap dimunculkan dengan tampilan khas, seiring konteks sosial yang mengiringi. Pada beberapa mitos, perempuan menjelma menjadi hantu ketika ia mati penasaran dan hendak balas dendam. Mereka yang mati karena diperkosa dan dibunuh, misalnya, akan berubah menjadi kuntilanak, lalu mengejar dan menguntit laki-laki yang telah menodai dan merenggut nyawanya.
Seakan tak cukup ditampilkan seram, tak berdaya, dan hanya bisa melawan saat sudah mati, setan perempuan kerap dihadirkan menjelma manusia--dengan tampilan seksi dan sensual, bahkan hobi menggoda pria yang akan ia jadikan korban.
Pada 1981 misalnya, film Leak--atau dikenal juga dengan judul Mystic in Bali--menjadi salah salah satu film horor Indonesia yang mendapat perhatian masyarakat. Bercerita tentang perempuan Amerika yang hendak mempelajari dunia ilmu hitam di Bali, kisah ini memunculkan karakter hantu “Ratu” Leak yang menyeramkan dan menyebar teror kematian kepada masyarakat desa. Sebagai film horor yang diproduksi pada awal 1980-an, Leak dianggap cukup menakutkan dan menarik--tanpa harus menampilkan perempuan berpakaian minim. Gladwin dalam tulisannya pun menyebutkan, Leak muncul sebagai film horor aseksual alias tanpa sedikit pun adegan berbau seks disematkan dalam cerita. Ini, salah satunya, terkait sensor konten untuk film Indonesia. Pada periode 1980 awal tersebut, Badan Sensor Film (BSF) disebut menyeleksi ketat konten yang boleh ditonton masyarakat.
Pada periode inilah Ratu Horor Suzanna mulai muncul dan menjadi karakter setan perempuan yang melegenda. Dalam film Nyi Blorong Putri Nyi Loro Kidul (1982) besutan Sisworo Gautama Putra, Suzanna tampil sebagai Ratu Ular. Karakternya digambarkan sebagai seorang perempuan cantik, memiliki kekuatan besar, sangat ditakuti, dan berhati licik. Jangan berani sembarangan berurusan dengannya. (https://kumparan.com/@kumparanhits/membedah-wajah-setan-perempuan-dalam-film-horor-indonesia diakses tanggal 30 Desember 2017, 22:08).

Masuk ke era Reformasi, horor mulai berpindah tempat—seperti mayoritas penduduk di negeri ini, film horor juga melakukan urbanisasi. Sekalipun ada film horor pada era Reformasi yang mengambil latar pedesaan, protagonis biasanya tetap berasal dari wilayah urban (kehadirannya hanya sebagai turis), contohnya adalah Keramat (2009), Tuyul (2015), dan Kampung Zombie (2015). Walaupun begitu, umumnya, film-film horor era Reformasi lebih berfokus di kota. Ambil contoh film Mirror (2005) dan Kesurupan (2008). Mirror bercerita tentang dilema anak SMA terhadap kemampuannya yang dapat membaca ajal seseorang lewat pantulan cermin. Sementara itu, Kesurupan mengisahkan tentang fenomena—tentu saja—kesurupan yang mengancam nyawa beberapa mahasiswa berduit yang iseng bermain boneka misterius. Keduanya sama-sama mengambil latar di kota.

Berbeda dengan Ratu Ilmu Hitam dan Bayi Ajaib, film horor kota macam Mirror dan Kesurupan tidak memperlihatkan sebuah ancaman terhadap kelompok masyarakat besar. Kehadiran arwah penasaran biasanya hanya menyerang sekelompok kecil orang, atau bahkan individu. Tidak ada ancaman kalau kota akan hancur apabila kekuatan mistis tersebut menang. Ancamannya bersifat mikro. Ketegangan di film horror era Reformasi lebih menyangkut pada nasib protagonis dalam film—apakah masih bernafas atau tidak sebelum credit title keluar. Bukan seperti film horor Orde Baru, yang ketegangannya adalah nasib desa secara keseluruhan. (https://jurnalruang.com/read/1475221425-setan-orde-baru-dan-setan-reformasi diakses tanggal 30 Desember 2017, 22:15).

Beda film horor era Orde Baru dan Reformasi, yang terwakili oleh pilihan latar ceritanya, memantik pembacaan lebih lanjut seputar semangat kedua fase politik tersebut. Contohnya, kita bisa lihat bagaimana visi Orde Baru memengaruhi sedikit banyak film horor Indonesia. Pemerintah Orde Baru mendoktrin masyarakat agar menjunjung Pancasila serta mendukung rencana pembangunannya dilakukan di segala sisi, termasuk di bidang perfilman. Hal ini diwujudkan melalui Pola Dasar Pembinaan Perfilman dan Pengembangan Perfilman Nasional atau P4N yang dirumuskan Dewan Film Nasional pada 1980 (Prayogo, 2009).

Hasilnya, film-film nasional yang diproduksi harus bersifat “kultural edukatif”. Ini kemudian dapat terlihat dari bagaimana film horor menggunakan latar dan masyarakat pedesaan. Kekuatan mistis, yang masih dipercaya oleh penduduk desa dalam film, menjadi metafor akan kebiasaan kuno yang pada akhirnya memberi mereka malapetaka. Hal ini harus dibenahi oleh orang dari kota atau kalau tidak sosok kiai, sebagai sosok penyelamat desa yang sedang huru hara. Orang kota itu memiliki pendidikan tinggi dan dapat dipastikan mengembalikan kedamaian masyarakat desa. Sedangkan kiai kerap kali menjadi simbol dari agama yang diposisikan sebagai solusi untuk masalah-masalah keseharian. Tampak kemudian, kita mulai mengarah ke modernisme, namun pada saat yang bersamaan tetap menekankan nilai-nilai keagamaan. . (https://jurnalruang.com/read/1475221425-setan-orde-baru-dan-setan-reformasi diakses tanggal 30 Desember 2017, 22:21).

Berbeda dengan film horor pada Orde Baru, film horor pada Reformasi banyak mengambil setting kota. Absennya kontrol ketat pemerintah soal film membuat film-film horor pada era Reformasi bisa dibilang lebih dipengaruhi faktor pasar. Landasan pemilihan kota dapat ditarik akarnya ke dua unsur, salah satunya adalah karakter-karakter utama yang mayoritas remaja. Penyebab dari hal ini adalah maraknya gaya narasi bercerita film-film horor Thailand dan Jepang yang sedang ramai diperbincangkan pada waktu yang sama (Saputra, 2016). Akar yang kedua, adalah pengangkatan cerita legenda urban yang tidak asing terdengar di telinga masyarakat. Hantu Jeruk Purut garapan Nayato Fio Nuala adalah penggagas konsep tersebut pada era Reformasi dengan 700 ribu penontonnya (Siahaan, 2007). Hingga kemudian muncul judul-judul seperti Mall Klender, Lawang Sewu, atau Terowongan Casablanca. Kedua akar ini seperti memiliki pesan yang sama, film horor Indonesia pada era Reformasi cenderung bersifat reaktif terhadap pasar. Namun, bukan berarti film horor era Orde Baru memiliki sifat yang berlawanan. Film periode tersebut juga mempertimbangkan pasar, tapi dengan cara berbeda, yakni melalui pemilihan pemeran yang dinilai dapat menarik minat masyarakat untuk pergi menonton. Perlu dilihat bagaimana Suzanna terus menerus dipilih sebagai sosok sentral di layar film-film horor pada kala itu. Hal ini sungguh lazim, mengingat film horor yang ia mainkan selalu berada di tangga box office film Indonesia dalam raihan jumlah penonton (Ardan dalam Lutfi, 2013). Ia bahkan menjadi kultus yang sampai sekarang menjadi simbol horor negeri ini dan masih belum memiliki pengganti. Terlepas dari variabel Suzanna yang menyebabkan horor di era Orde Baru juga bersifat reaktif, memang tidak bisa disangkal bahwa film-film yang ditampilkan di layar bioskop komersial kebanyakan merupakan sebuah komoditas. Namun, adanya pengaruh pemerintah pada konten film horor pada era Orde Baru sepertinya tidak bisa ditampik. Pesan-pesan pembangunan tampak berusaha diselipkan melalui simbol-simbol dalam bentuk hidup atau mati. Sebaliknya pada era Reformasi, hal itu tidak lagi menjadi kewajiban para pembuat film horor kita. Ada kebebasan dalam berkreasi meski masih ada fungsi filter yang dipegang oleh lembaga sensor. Namun, sepertinya itu bukan jadi alasan utama sebab masih kurangnya varian film horor di negeri ini. (https://jurnalruang.com/read/1475221425-setan-orde-baru-dan-setan-reformasi diakses tanggal 30 Desember 2017, 22:40).

Jadi dapat disimpulkan bahwa perkembangan film Horor di Indonesia ini sangat berpengaruh dari Implementasi pemerintahan Orde Baru 1996-1998. Film Horor yang bernuansa mistik yang mengakat mitos lokalitas daerah kemudian di bumbui dengan adegan panas yang menjadikan bawa film Horor ini menjadi Horor Seks, yang kebanyakan menjadikan tubuh sensualitas wanita sebagai dasar pemuas dari film Horor itu sendiri , yang dimana itu merugikan wanita dalam sinema yang diindentikan dengan Kekerasan, Horor, dan Seks pada tahun 1970an-1980an. Seperti yang terjadi pada film horor yang tren pada tahun belakangan ini yaitu Air Terjun Pengantin dan Arwah Goyang Krawang yang menggunakan Aktris yang tidak ragu-ragu untuk menonjolkan seksualitas mereka seperti Julia Peres dan Dewi Persik.






Refrensi :

Misbach Yusan Biran, Festival Film Indonesia 1980 Semarang, Film Indonesia 1900-1980, Sinematek Indonesia, Semarang : 1980.

Misbach Yusan Biran, Sejarah Film Indonesia 1900-1950 Bikin Film di Jawa, Komunitas Bambu, Jakarta : 2009.

Mark Wilshin, Sinema dalam Sejarah Horor, KPG, Jakarta : 2010.

Anton Sutandio, Sinema Horor Kontemporer Indonesia, Penerbit Ombak, Yogyakarta : 2016.











 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Manusia Berpikir - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger